Ancaman Senyap Kaldera Dieng

Dataran Tinggi Dieng

Lumpur berwarna kelabu gelap itu meletup-letup. Suhunya yang mencapai tiga kali titik didih air, siap melumerkan apa saja. Asap putih tebal menguar dari permukaan lumpur, menyemburkan bau belerang yang menyesakkan.

Namun, pemandangan mengerikan dan aroma belerang itu tak menyurutkan ratusan wisatawan untuk mendekat ke Kawah Sikidang. Mereka menyaksikan aktivitas vulkanik di kompleks gunung api Dieng, Jawa Tengah, itu dari balik pagar bambu yang mengelilingi kawah.

Beberapa wisatawan bahkan menerobos tanda larangan mendekat ke kawah karena ada risiko gas beracun. Sikidang pernah melepaskan gas beracun karbon dioksida tahun 1992 dan merenggut satu korban jiwa.

Gas beracun merupakan ancaman utama di kompleks gunung api Dieng yang padat penduduk dan ramai dikunjungi wisatawan. Gas beracun ini kerap menguar dari 11 kawah yang bertebaran di kaldera Dieng. Misalnya, tahun 2011, Kawah Timbang yang sebelumnya dianggap tidak aktif tiba-tiba melepaskan gas beracun dan memaksa warga di sekitarnya mengungsi.

Tragedi paling memilukan terjadi tahun 1979 saat gas beracun dari Kawah Sinila merenggut 149 korban jiwa. Ini merupakan bencana terbesar akibat gas beracun di Dieng dalam sejarah. Letusan freatik Kawah Sinila itu mengembuskan sekitar 200.000 ton gas karbon dioksida murni dalam waktu sangat cepat.

Gas karbon dioksida yang bersifat menggusur oksigen itu berembus menuruni lereng ke dataran di bawahnya dan membentuk lapisan rapat. Seluruh korban jiwa tidak bisa bernapas karena tidak ada oksigen untuk bernapas.

Kejadian serupa pernah terjadi di danau kawah gunung api di Danau Nyos dan Monoun, keduanya di Kamerun. Danau Monoun melepaskan gas karbon dioksida tahun 1984 dan merenggut 37 jiwa. Sedangkan, Danau Nyos melepaskan 1,24 juta ton karbon dioksida hanya dalam beberapa jam tahun 1986. Gas itu menewaskan 1.700 orang.

Ketiga pelepasan gas karbon dioksida mematikan itu diteliti geolog dari Badan Geologi Inggris dan CRIEPI Jepang. Hasil penelitian gabungan itu dituangkan dalam laporan IEA Greenhouse Gas R&D Programme.

Letusan “freatik”

Pelepasan gas karbon dioksida di Dieng berhubungan dengan letusan freatik yang terjadi saat pembentukan kawah-kawah baru dan pengaktifan kembali rekahan-rekahan yang sebelumnya sudah ada. Letusan freatik umumnya hanya melepaskan air sangat panas dan sedikit gas karbon dioksida.

Pelepasan gas karbon dioksida di Kawah Sinila disebabkan kebocoran lapisan yang jenuh gas berkepadatan tinggi di dekat permukaan. Lapisan jenuh gas itu bocor melalui rekahan- rekahan batuan yang tertekan oleh peningkatan aktivitas vulkanik yang menyebabkan letusan.

Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), emisi gas beracun pada 20 Februari 1979 itu mengikuti erupsi freatik di sebelah barat daya kompleks gunung api Dieng. Kawah Sinila meletus pukul 05.04 WIB setelah diawali gempa. Pada pukul 06.50 WIB, kawah baru, Sigluduk yang berada sekitar 250 meter sebelah barat Kawah Sinila, mulai mengeluarkan asap.

Erupsi di Kawah Sinila dan Sigluduk itu menyebabkan warga Desa Kopucukan ketakutan dan melarikan diri. Namun, ancaman sesungguhnya berasal dari gas beracun.

Orang-orang yang panik ini tewas akibat gas karbon dioksida dan hidrogen sulfida yang keluar dari beberapa lubang kecil serta rekahan-rekahan di sebelah selatan dan barat kawah. Gas meluncur ke sisi yang lebih rendah dengan kawah dan terakumulasi di dataran yang lebih rendah di tepi jalan.

Tak berbau

Dalam laporan IEA Greenhouse Gas R&D Programme, pelepasan gas karbon dioksida di kompleks gunung api sangat wajar. Karbon dioksida yang tak berbau ataupun berwarna biasanya bercampur dengan udara, cepat menguap, dan tak berbahaya bagi manusia. Karbon dioksida menjadi sangat berbahaya jika penyebarannya terbatas atau terjadi peningkatan aktivitas kegempaan secara tiba-tiba yang memicu akumulasi gas karbon dioksida berkonsentrasi tinggi.

Pelepasan gas karbon dioksida yang terkonsentrasi pada area terbatas itu bisa menjadi dasar untuk melakukan evakuasi selektif dan bertahap sesuai potensi bahaya. Saat Kawah Timbang di Dieng statusnya meningkat pada level Siaga, PVMBG mengeluarkan rekomendasi untuk mengungsikan warga yang berada radius 1 kilometer dari kawah Timbang.

Warga Dusun Simbar dan Serang, Desa Sumberejo, Kecamatan Batur, Banjarnegara, diungsikan karena terancam gas karbon monoksida dan karbon dioksida. Konsentrasi gas karbon dioksida masih aman bagi manusia jika tidak melebihi ambang batas aman 0,5 persen dari volume udara. Evakuasi harus segera dilakukan jika volume gas karbon dioksida sudah lebih dari 1,5 persen.

Dideteksi lama

Bahaya gas beracun di kompleks gunung api Dieng sudah dideteksi sejak lama oleh Van Bemmelen. Pemantauan aktivitas vulkanik dan pelepasan gas pun menjadi fokus perhatian pos pemantauan gunung api Dieng. Pemantauan pelepasan gas sangat vital karena Kaldera Dieng yang berukuran panjang 14 kilometer dan lebar 6 kilometer dengan arah timur ke barat itu sangat padat penduduk.

Evolusi gunung api Dieng dikelompokkan oleh Sukhyar (1994) menjadi tiga episode. Pertama adalah gunung api paling tua yang produknya berumur kuarter akhir. Sisa tubuh gunung api tua itu membentuk batas di sisi utara dan selatan Dataran Tinggi Dieng, termasuk kerucut gunung Prahu, Tlerep, dan Rogojembangan.

Kemudian terjadi amblesan pada sisi barat kerucut gunung Prahu (2.565 mdpl) yang membentuk dataran tinggi yang diinterpretasikan sebagai kaldera. Kerucut Nagasari diperkirakan sebagai batas barat dataran tinggi ini.

Episode kedua ditandai dengan terbentuknya gunung api-gunung api berbentuk kerucut di dalam cekungan. Aktivitas vulkanik menghasilkan lava basal yang encer, basalt-andesites dan pyroxene-andesites. Material jatuhan hasil erupsi gunung api-gunung api ini menyelimuti cekungan Dieng dan Batur. Lapisan itu sering disebut Dieng tepra dan umurnya terukur 16.770 tahun yang lalu.

Gunung Bisma di tepi selatan merupakan gunung api tertua yang menghasilkan lava basal, jatuhan, dan aliran piroklastik. Adapun Gunung Api Sroja di sisi timur memiliki dua puncak kawah. Di lereng selatannya terbentuk danau kawah yang disebut Telaga Menjer yang saat ini dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik dan irigasi.

Periode ketiga merupakan aktivitas magmatik muda dengan umur lava 8.540 tahun. Material letusan dari pusat letusan Pakuwaja yang melapisi lava berumur paling muda juga menutupi endapan letusan hidrotermal dari Telaga Lumut yang berumur 2.450 tahun. Material jatuhan dari erupsi hidrotermal yang lebih muda dihasilkan oleh letusan Kawah Sileri pada tahun 1944 dan Sinila pada tahun 1979.

Material letusan gunung api- gunung api di kompleks Dieng itu yang membentuk tanah subur yang kini menjadi sumber kehidupan masyarakat Dieng. Di tengah kesuburan yang menjadi sumber kehidupan itu, tersimpan bahaya gas beracun yang mematikan, tetapi kerap tak disadari karena dia nyaris tak teraba dan tak berbau.

sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s