Menjelajah Candi Ijo di Bukit Purba

Panorama di Candi Ijo
TribunJogja/Mona Kriesdinar

Candi Ijo berada di atas bukit Ijo yang berketinggian 410 meter diatas permukaan laut. Dengan demikian telah membuatnya sebagai candi tertinggi dibandingkan dengan candi lainnya yang ada di Yogyakarta. Untuk mencapai candi yang berada di Dusun Groyokan Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan ini, pengunjung harus menempuh perjalanan lebih kurang 2 km dengan medan menanjak. Setelah sampai di kawasan candi yang diperkirakan dibangun pada abad 9 masehi ini, pengunjung pun akan disajikan dengan pemandangan Yogyakarta yang disaksikan dari ketinggian. “Kalau malam tiba, jarak pandang di sini hanya sekitar 2 meteran saja, lantaran kabutnya sangat tebal,” ujar Warga setempat, Sabtu (26/11).

Asal mula digunakan nama Ijo untuk menyebut candi tersebut, didasarkan pada nama lokasi candi itu ditemukan. Penggunaan nama Desa Ijo yang berarti hijau untuk pertama kalinya disebut dalam prasasti Poh yang berasal dari tahun 906 masehi. Di dalam prasasti tersebut ditulis seorang hadirin upacara yang berasal dari Desa Wuang Hijq yang tertulis “…Anak wanua I wuang hijo…”. Jika hal itu terbukti benar, maka nama “ijo” setidaknya telah berumur 1105 tahun hingga tahun 2011 ini.

Kitab – kitab India kuno menyebutkan bahwa pemilihan lokasi untuk didirikan sebuah bangunan kuil dewa dinilai sangat berharga dan lebih utama dibandingkan dengan bangunan kuil itu sendiri. Di dalam kitab kuno tersebut dinyatakan bahwa tempat tinggal yang paling utama bagi dewa dan manusia yakni lahan yang biasanya berada di lokasi yang subur dan tidak jauh dari mata air.

Di kawasan Prambanan setidaknya terdapat dua tipe lahan yang berbeda. Yakni di dataran Prambanan dan dataran Sorogedug yang subur. Sedangkan di tipe lahan kedua berada pada perbukitan sisi selatan yang merupakan bagian dari rangkaian pegunungan selatan. Adapun Candi Ijo sendiri berada pada kawasan yang tidak subur dan jauh dari mata air. Belum ada penjelasan mengenai perbedaan interpretasi antara yang ada di kitab India kuno dengan lokasi Candi Ijo ini.

Secara historis, candi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1886 oleh HE Doorepaal, kemudian ditemukan lagi tiga buah arca batu oleh CA Rosemeler.pada tahun 1887 dilakukan penggalian arkeologis oleh Dr J Groneman dan menemukan lembaran emas bertulis, cincin emas serta beberapa jenis biji-bijian.

Candi yang bercorak agama hindu ini memiliki struktur bangunan yang berbeda dengan bangunan di kompleks percandian Prambanan pada umumnya. Jika di Prambanan memiliki pola memusat ke tengah, Candi Ijo ini memusat ke belakang dengan susunan teras yang berjumlah 11 buah berpusat di punden berundak yang terletak di bagian paling atas.

Bagian itu merupakan kompleks candi yang dianggap paling suci. Ditandai dengan adanya satu candi utama dan tiga candi perwara yang merupakan representasi dari Brahma, Wisnu dan Syiwa. Di halaman ini pula terdapat empat lingga patok yang berada di sekeliling halaman utama mewakili empat penjuru mata angin. Lingga merupakan titik – titik perpotongan diagram asana yang merupakan diagram kosmis mengenai penataan gugusan candi dalam satu halaman. Diatas pintu candi induk terdapat hiasan kepala kala bersusun.

Sedangkan di depan pintu bagian barat candi terdapat tubuh sepasang naga yang menjulur ke bawah dengan kepala yang menghadap ke arah luar.
Di teras kedelapan, ditemukan dua buah prasasti batu. Pertama berada di atas dinding pintu masuk candi berkode F. Prasasti setinggi satu meter ini bertuliskan Gulywan sedangkan prasasti lainnya memuat 16 kalimat yang diduga merupakan mantra kutukan yang berbunyi “Om Sarwwawinasa…Sarwwawinasa”.

Jika mengunjungi hingga bagian puncak bukit, maka akan tampak dataran Yogyakarta yang berada di sebelah barat bukit. Dari ketinggian ini, tampak jelas landasan pacu bandara adisucipto. Sedangkan jika melihat ke arah Selatan, tampak gugusan pegunungan selatan yang memanjang hingga Wonosari, Gunung Kidul. Terlihat bukit – bukit terjal berbatu yang usianya sudah mencapai jutaan tahun. Berbalik ke arah timur, akan terlihat wilayah Klaten sedangkan jika ke arah utara, tampak pula gugusan bukit lainnya yang menyangga kompleks percandian lainnya semisal Candi Barong dan Situs Ratu Boko.

They Cut The Hill
Keberadaan Candi Ijo tentu menjadi hal yang menarik perhatian para arkeolog untuk mengetahui bagaimana membuat candi yang terletak di puncak bukit ini. Hal itu juga diakui arkeolog Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta Wahyu Astuti. Ia mengaku sangat kagum dengan teknologi bangunan candi yang sudah mampu menjawab segala macam tantangan alam seperti ketinggian bukit.

Gugusan bukit purba di Candi Ijo
TribunJogja/Mona Kriesdinar

“They cut the hill,” ujarnya melukiskan bagaimana orang – orang pada masa itu membangun kompleks Candi Ijo yang berada di bukit kapur ini.

Menurutnya, seolah saat itu para pembuatnya seperti memotong bukit kemudian menjadikannya sebagai telatar atau pondasi utamanya. Bukit inilah yang disebut sebagai bed rock atau pondasi dimana bangunan candi bertumpu diatasnya. Ukuran bed rock sendiri, sama besarnya dengan gugusan perbukitan tersebut, lantaran pada dasarnya pondasi tersebut adalah bukit itu sendiri.
“Bayangkan teknologi apa sebenarnya yang dipakai pada masa itu, sehingga sanggup mendatangkan batu – batuan yang sebenarnya tidak ada di lokasi candi. Belum lagi tantangan menaiki tanjakan hingga mencapai puncak bukit,” tandasnya.

Hal yang sama disampaikan, Eko Hadiyanto, selaku pegawai Registrasi Penetapan dan Dokumentasi, BP3 Yogyakarta. Menurutnya, secara arsitektur, bangunan Candi Ijo telah menerapkan tata lingkungan, pemanfaatan lingkungan, terasering dan sistem drainase yang maksimal. Sehingga sanggup membuat candi di sebuah lokasi yang memiliki tantangan cukup berat sebagai lokasi bangunan. “Ternyata teknologi masa itu terbukti sanggup mempertahankan candi termasuk ketika terjadi gesekan lempeng bumi di sesar Opak. Artinya candi ini memang sudah dipersiapkan untuk meminimalisir tantangan yang berasal dari alam,” ujarnya.

Saat terjadi gempa bumi dahsyat tahun 2006 lalu, Candi Ijo hanya mengalami kerusakan di beberapa bagian saja. Sedangkan secara struktur masih berdiri kokoh termasuk bukit yang menjadi penyangganya.

Sementara itu, Dosen Geologi UGM, Saptono Budi Samodra menjelaskan bahwa bukit yang menjadi penyangga Candi Ijo diperkiraan sudah berusia 3 hingga 25 juta tahun. Hal ini diperkuat dengan penemuan materi yang sama persis dengan formasi semilir yang banyak ditemukan memanjang dari ujung barat pegunungan selatan. Semisal di daerah Pleret, sebalah barat Gunung Sudimoro, Piyungan, Prambanan, Gunung Baturagung hingga ke ujung timur di Gunung Gajahmungkur Wonogiri. Sehingga dengan demikian, diperkirakan usia bukit tersebut sudah mencapai angka jutaan tahun.

Oleh karena itu, deretan bukit tersebut sebenarnya menjadi saksi bagaimana perubahan struktur tanah yang terjadi jutaan tahun yang lalu yang kini didiami oleh warga Yogyakarta. Bukti – bukti tersebut, bisa disaksikan dengan jelas saat memandang ke arah selatan dari bukit ijo. Tampak deretan bukit berbatu dengan formasi lurus dan sejajar. Menurutnya, ada kekuatan alam yang sangat dominan yang membentuk bukit tersebut, satu diantaranya yakni oleh aktivitas geologis yang berada di sesar opak.

“Perlu energi yang sangat besar untuk menciptakan bukit setinggi itu, dan aktivitas tektonik yang terjadi belakangan ini belum ada yang mampu membentuk bukit dengan ketinggian demikian. Tapi yang patut dicatat bahwa formasi tersebut terjadi dalam waktu yang sangat lama, dengan kekuatan yang luar biasa, dan dibentuk sendiri oleh alam,” tandasnya seraya menganalogikan gempa di Aceh yang berkekuatan 7,9 SR itu saja, hanya mampu mengangkat permukaan setinggi 1 meter di dasar laut. Maka belum bisa dibayangkan seberapa kuat kejadian yang terjadi di jaman purba tersebut.

Sementara itu, beberapa waktu yang lalu sempat muncul dugaan tentang keberadaan piramida di kawasan perbukitan Candi Ijo. Indikasi tersebut diperoleh dari hasil penelitian sebuah tim yang menamakan diri sebagai Tim Peneliti Katastropika Purba yang diinisiasi oleh Kantor Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana.

Tim ini sempat memberikan keterangan di sejumlah media online terkait penelitian purbakala di Jawa Timur dan Yogyakarta. Antara lain di kompleks bekas ibu kota kerajaan Majapahit di Trowulan, Bukit Klothok di Kediri serta bukit tanah yang ada di Candi Ijo.

Di ketiga tempat itu, dalam rilisnya, Ir Erick Ridzky selaku anggota tim tersebut memperoleh informasi berharga terkait dengan kemungkinan gambaran bencana yang pernah terjadi di jaman purba. Namun dirinya menegaskan bahwa semua temuan tersebut baru merupakan indikasi saja. Sedangkan hasil finalnya masih memerlukan kajian lebih lanjut lagi. Informasi demikian menurut Erick akan sangat berharga untuk merancang mitigasi bencana di masa mendatang.

Di kompleks Trowulan, tim menemukan tiga jenis lapisan bencana yang memiliki kandungan hazard dan materi yang berbeda. Hal ini juga mewakili tiga peradaban pada zaman yang berbeda pula. Tim memperoleh hipotesa terkait adanya peran alam yang sangat dominan sehingga bisa mengubur kompleks tersebut. Ketiga lapisan tersebut meliputi, lapisan dasar diduga berasal dari jaman pra sejarah, kemudian lapisan tengah dari abad IX serta paling atas dari abad XII.

Di Trowulan tim curiga adanya bangunan sebelum kerajaan Majapahit. Hal ini diperkuat dengan hasil analisa batuan dan citra Ground Penetrating Radar (GPR) dengan pendekatan struktur geologi bahwa di lokasi tersebut terindikasi adanya jajaran parit. Di obyek ini ditemukan lapisan bata pertama di kedalaman 0,8 meter, kemudian lapisan kedua di kedalaman 2,5 meter. Setelah kedalaman itu, tim menemukan lapisan kerakal berangkal yang tidak bisa ditembus auger atau alat pengeboran.

Menariknya, tim ini juga menduga adanya bangunan buatan manusia yang terdapat di Bukit Klothok dan bukit yang ditempati situs Candi Ijo. Meski belum bisa dipastikan, namun ia menyebut bangunan itu menyerupai candi atau piramida yang berasal dari era prasejarah. Untuk kedua lokasi ini, tim katastropik juga menjelaskan bahwa temuan ini masih merupakan dugaan indikasi.

Terkait hal tersebut, ketiganya sepakat belum menemukan bukti – bukti yang dimaksudkan mengenai keberadaan piramida tersebut. “Kalau saya berpijak pada fakta – fakta saja. Sebuah fakta arkeologis yang dibuat oleh manusia jaman dulu. Jika memang belum ada fakta yang menuju ke arah situ, ya sulit untuk meyakinkan mengenai keberadaan piramida seperti yang dimaksudkan itu,” pungkas Wahyu Astuti.

2 thoughts on “Menjelajah Candi Ijo di Bukit Purba”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s