Rivalitas El Classico

Rivalitas El Classico

TAK berlebihan bila menyebut “El Clasico” sebagai rohnya La Liga. Laga lainnya hanya sekadar bunga-bunga penghias. Duel dua rival abadi ini akan jadi barometer siapa layak membawa pulang gelar La Liga. Rivalitas ini punya aura positif bagi klub-klub Spanyol, terbukti dengan tampilnya tiga wakil mereka di Liga Europa: Valencia, Atletico Madrid, dan Athletic Bilbao.

Sebelum laga “El Clasico”, Real Madrid dan Barcelona telah melakukan pemanasan dengan klub-klub lainnya. Jika bagi kedua klub, laga dengan tim lain adalah persiapan, maka bagi klub-klub lain duel melawan kedua tim itu adalah barometer bagi kekuatan sendiri.

Menjuarai La Liga tanpa mengalahkan rival utama, adalah kemenangan yang cacat. Madrid wajib menang dalam laga pemungkas “El Clasico” musim ini bila ingin menepuk dada di akhir musim. Sebaliknya, Barcelona harus menang bila ingin tetap disanjung, sekalipun di akhir musim berada di urutan kedua. Harga diri, gengsi, dan sejarah klub serta kota yang diwakili menjadi bagian tak terpisahkan dalam duel ini.

Madrid wajib menang. “Los Blancos” harus melupakan hitung-hitungan poin, yang masih menguntungkan “El Real” walaupun kalah dalam laga ini. Semua investasi yang ditanam Florentino Perez bermuara pada bagaimana mematahkan dominasi Barcelona.

Mengalahkan Barcelona adalah jaminan meraih gelar dalam setiap kejuaraan. Piala Raja musim lalu mereka rebut usai menekuk Barcelona di partai final. Musim ini Madrid gagal menjejak final Piala Raja lantaran dijegal Barcelona.

Memenangkan “El Clasico” musim ini akan membuka optimisme bahwa Barcelona bisa dikalahkan. Sebaliknya, bila “Los Blancos” kembali takluk di Camp Nou, tak mustahil trauma kekalahan akan melekat dan berujung pada kehilangan akal untuk mengalahkan Barcelona pada musim-musim berikutnya. Kekalahan ini juga akan jadi beban berat bagi pelatih yang kelak menggantikan Mourinho. Jika Mourinho saja gagal menang, apa jadinya dengan pelatih lain?

“El Clasico” kali ini adalah tantangan tersendiri bagi Mourinho. Sejak tiba di Spanyol ia telah pasang target menjadi pelatih pertama yang merajai tiga liga terbesar Eropa. Target pemungkasnya adalah menang di La Liga Spanyol setelah sebelummnya merajai Inggris dan Italia. Sekalipun Mourinho menjuarai La Liga musim ini, sejarah akan tetap mencatatnya sebagai kemenangan yang pincang bila ia kalah dalam “El Clasico”. Sifat perfeksionisnya akan mendorongnya untuk membuat sejarah mulus tanpa coretan kecil “El Clasico”.

Sebaliknya, Barca punya motivasi untuk memenangkan kembali “El Clasico”. Sekalipun tak ada jaminan akan meraih La Liga bila menang, karena masih terpaut satu poin. Tapi, kemenangan itu adalah “pesan penting” bahwa Barcelona tak terkalahkan. Madrid tak akan tidur nyenyak sekalipun unggul poin pada akhir musim, karena pada musim berikutnya Barcelona tetap jadi momok.

Memenangkan “El Clasico” akan menjadikan klub Katalan ini sebagai legenda hidup. Apa pun yang terjadi usai musim ini, Barca dan Pep telah menjadi legenda. Barca akan menjadi referensi bagi semua klub besar di masa kini dan masa depan. Kehebatan sebuah tim akan selalu dibandingkan dengan masa jaya Barca-Pep. Bahkan, rekor-rekor yang kini dicatat oleh Madrid dan Mourinho, akan berada di bawah bayang-bayang kejayaan Barcelona.

Terlepas siapa pun pemenang “El Clasico”, mempertahankan rivalitas ini berarti melestarikan proses pembibitan pemain untuk timnas Spanyol. Laga melawan kedua tim adalah momen terbaik bagi setiap pemain untuk unjuk gigi. Pasalnya, melawan mereka selalu jadi sorotan pengamat dan pencinta sepak bola. Semakin tajam persaingan Madrid dan Barcelona, akan kian mendorong tim-tim lain untuk mengikuti jejaknya.

Bagi kita, spirit “El Clasico” adalah energi untuk terus memperbaiki tim. Florentino Perez dan Sandro Rossel adalah dua tokoh yang harus mempertahankan api rivalitas itu. Kebijakan mereka adalah demi menambah semaraknya roh rivalitas tersebut. Melihat pentingnya menjaga rivalitas “El Clasico”, wajar jika komunitas sepak bola kita bertanya apakah kita punya rivalitas sejenis “El Clasico”?

Tentu ada. Timnas Garuda memiliki rival abadi timnas Malaysia. Laga tim Garuda kontra timnas Malaysia, terlepas dari level duel yang dihadapi, selalu terkait dengan gengsi dan sejarah kedua negara. Rivalitas ini adalah fakta, tapi tak akan berkembang kearah yang positif tanpa sentuhan visioner seorang pemimpin. Sayangnya, belakangan, rivalitas “El Clásico” yang dihadapi sepak bola Tanah Air adalah rivalitas internal yang destruktif.

Sejarah rivalitas Real Madrid dan Barcelona sangatlah panjang. Sampai-sampai hampir semua aspek sosial budaya ikut terpengaruh. Hal ini menunjukkan jika persaingan kedua tim ini memang spesial dan sebutan El Clasico memang layak disematkan saat kedua tim berjumpa.

Kata-kata di bawah ini memiliki ikatan kuat dengan terbentuknya El Clasico antara Barcelona dan Real Madrid.

Cules dan Merengues

Barcelona punya sebutan Cules, yang dalam bahasa Catalan artinya bokong.

Istilah ini muncul saat pertandingan Barcelona dimainkan di stadion pertama mereka di Calle Industria. Fans Barcelona biasanya duduk di dinding bagian luar sambil menyaksikan pertandingan.

Orang yang biasa lewat di luar stadion bisa melihat bokong fans yang duduk di tembok bagian luar ini. Dan akhirnya jadilah Cules identik dengan Barcelona.

Sedangkan Real Madrid dikenal dengan Merengues karena warna seragam mereka, putih-putih-putih. Oleh publik Spanyol, warna serba putih itu juga sama dengan puding terkenal di negara mereka yang dibuat dari putih telur dan gula.

El Canguelo de Barcelona

Di masa silam, media olahraga yang bermarkas di Madrid menuduh Barcelona menjadi korban ‘Canguelo’, yang secara harfiah berarti Barcelona sangat ketakutan Real Madrid datang dari belakang untuk mencuri gelar liga mereka.

Di tahun 2007, Real Madrid di bawah asuhan Fabio Capello bisa mengatasi perlawanan Barcelona bentukan Frank Rijkaard untuk mencuri gelar juara di hari terakhir kompetisi, yang menegaskan tuduh di atas.

Jika Real Madrid bisa menang atas Barcelona akhir pekan ini, selisih delapan angka akan terpangkas menjadi lima. Bukan tidak mungkin ‘Canguelo’ akan terjadi lagi bagi Barcelona.

La Manita

Kata ini sangat sesuai dengan momentum ketika Barcelona menang 5-0 atas Real Madrid di bulan November tahun lalu. Saat itu pemain Barcelona dan fansnya melambaikan tangan di udara dengan lima jari dibuka lebar-lebar. Itulah selebrasi la manita, atau ‘tangan kecil’.

Kemenangan tersebut tentunya sangat berarti karena itu artinya Real Madrid harus bisa meraih kemenangan lebih dari 5-0 jika di akhir musim perolehan poin kedua tim sama dan pada akhirnya penentuan juara ditentukan lewat head-to-head.

Villarato

Bisa dikatakan Villarato adalah sebuah konspirasi teori yang diusung kubu Real Madrid untuk menyudutkan sang lawan, Barcelona.

Frasa Villarato digunakan tiap fans Madrid berpikir Barcelona mendapat perlakuan spesial dari pihak berwenang di kompetisi, baik ofisial atau pun otoritas sepakbola.

Di tahun ini, Villarato terjadi kala Jose Mourinho menuduh Barcelona diberi jadwal kompetisi yang membuat mereka lebih punya banyak waktu untuk beristirahat dan bersiap untuk laga berikutnya ketimbang Real Madrid. Selain itu, Mourinho juga tak jarang menuduh pemainnya lebih banyak dikenai sanksi jelang laga penting ketimbang Barcelona.

Mes que un club

Ini adalah slogan Barcelona, yang artinya lebih dari sekadar klub.

Jika diartikan tidak hanya dari sudut pandang sepakbola saja, Barcelona bisa dikatakan sebagai simbol dari nasionalisme Catalan, dan perlawanan daerah untuk bisa diakui melawan kekuatan dari pemerintahan Spanyol yang ada di Madrid, yang dalam hal tertentu disimbolkan sebagai Real Madrid.

Tak mengejutkan jika sering terlihat fans Barcelona mengibarkan bendera dengan bendera Catalan dengan warna kuning dan garis merah dan memasang spanduk dengan tulisan berbahasa Inggris, yang artinya kurang lebih ‘Catalonia bukanlah Spanyol’.

Fans Madrid sendiri memiliki gaya balasan tersendiri dengan mengibarkan bendera Spanyol dan menyanyikan ‘Eviva Espana’, atau Jayalah Spanyol.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s