Senjata Kuno

Senjata – Senjata Kuno

Tombak kemungkinan adalah senjata pertama yg digunakan manusia purba untuk berburu binatang dan terus digunakan sampai menjelang Perang Dunia 2 oleh hampir seluruh bangsa di dunia. Ada yg terbuat dari logam, kayu, rotan maupun bambu dengan berbagai variasinya.

Karena fungsinya yg sangat efektif tombak menjadi senjata utama dalam dunia militer. Karena panjang tombak umumnya sekitar 2-3 m sehingga lebih mudah menjangkau lawan, menjadikan tombak memiliki beberapa kelebihan dibandingkan pedang. Hampir semua kerajaan besar di seluruh dunia melengkapi angkatan perangnya dengan pasukan tombak (disamping pedang tentunya) baik itu pasukan infantri maupun kavaleri.

Taktik penggunaan tombak dalam pertempuran :

Tombak digunakan sebagai shock attack, dalam posisi menyerang pasukan tombak akan berlari mengarahkan tombak mereka menuju musuh, secara psikologis pasukan lawan yg tidak memiliki disiplin tinggi dan peralatan lengkap pasti akan ketar-ketir. Setelah bentrokan, terjadilah perang jarak dekat, dalam hal ini tombak kurang efektif, karenanya pasukan tombak biasanya juga dilengkapi dengan pedang untuk pertempuran jarak dekat.

Dalam posisi terjepit atau jumlah tidak seimbang tombak berguna untuk melindungi dari kepungan musuh, yaitu dengan mengayunkan tombak membentuk putaran.

Tombak juga efektif untuk posisi bertahan, pasukan tombak membentuk formasi rapat dengan mengarahkan tombak ke arah lawan yg menyerang, ini terbukti efektif dapat menghalau serangan infantri ringan maupun pasukan berkuda musuh.

Penggunaan tombak menjadi lebih efektif jika digunakan secara massal dalam suatu pasukan dibandingkan secara individu, karena itu pasukan tombak biasanya adalah pasukan yg terlatih dan memiliki disiplin tinggi sehingga mampu bertempur dalam satu kesatuan formasi.

Di Asia dinasty Qin di China 221 SM sudah melatih pasukan tombaknya dengan disiplin tinggi dan terorganisir sehingga mampu bertempur dan bermanuver dalam suatu formasi. Bahkan bangsa Sumeria (abad 25SM) sudah menggunakan tombak dalam formasi tempur.

Salah satu bangsa yg terkenal sangat memfokuskan penggunaan tombak dalam angkatan perangnya adalah bangsa Yunani.

Hoplite

Hoplite adalah heavy infantry Yunani, bersenjatakan tombak sepanjang 2-3m (Doru) dan sebilah pedang pendek (xiphos) dilengkapi perisai bulat besar (aspis), helm, baju zirah dan pelindung kaki, semua terbuat dari perunggu. Total berat perlengkapan sekitar 50-60 kg, Hoplite sendiri berasal dari kata hoplon yg berarti pelindung atau persenjataan lengkap.

Saat itu Yunani berbentuk negara-negara kota (abad 5 SM) sehingga tidak sanggup membiayai pasukan profesional. Hoplite dibentuk dari warga kota yg pada saat damai memiliki profesi lain, petani, pedagang, guru, nelayan dll. Setiap perlengkapan tersebut dibeli sendiri oleh masing2 warga. Selain sebagai simbol kejantanan juga berfungsi sebagai status sosial. Karena harganya mahal, hoplite hanya terdiri dari warga menengah ke atas. Beberapa ada yg menjadi pasukan berkuda, tapi jumlahnya tidak banyak.

Warga kelas bawah jg ikut bertempur menjadi infantri ringan, berfungsi sebagai pendukung. Mereka bersenjatakan panah, lembing atau bahkan ketapel, tidak dilengkapi dengan peralatan pelindung berat, umumnya hanya menggunakan baju zirah dari kulit hewan keras.

Taktik

Karena umumnya berasal dari warga yg tidak terlatih khusus terutama dalam pertempuran satu lawan satu (kecuali Sparta) maka taktik yg digunakan haruslah cukup sederhana. Bentuk pertempuran mirip seperti olahraga rugby dan berlangsung singkat tdk sampai 1 jam.

Kedua pihak akan membentuk formasi berbaris (disebut phalanx) saling berhadapan. Barisan hoplite sangat rapat tertutup perisai sehingga sulit ditembus. Pada tahap awal serangan dimulai dengan pasukan infantri ringan melemparkan lembing, panah dan batu ke arah lawan.

Dilanjutkan dengan pasukan hoplite berjalan maju secara perlahan (jarang berlari) untuk menjaga agar barisan tetap rapat. Ketika bertemu kedua pihak akan saling mendorong dan menghujamkan tombak mereka berusaha membentuk celah. Barisan kedua berfungsi untuk menahan barisan pertama agar tetap ditempatnya dan menggantikan apabila orang didepannya tewas.

Ketika terbentuk celah maka pasukan akan masuk ke barisan lawan disinilah pedang berperan penting untuk mengobrak-abrik barisan lawan. Jika keutuhan barisan sudah tidak bisa dijaga lagi biasanya pihak yg kalah akan kabur dan dikejar oleh pasukan berkuda.

Kelemahan

Sebenarnya taktik hoplite tidaklah istimewa dan banyak kekurangannya. Karena merupakan heavy infantry jadi harus bergerak lambat agar barisan tetap rapat, hoplite jg sulit untuk bermanuver dan cenderung bergerak hanya ke satu arah. Sisi paling kanan merupakan sisi terlemah karena tidak dilindungi perisai, untuk melindunginya pada sisi kanan ini ditempatkan orang2 terbaik.

Meskipun begitu sistem ini jika digunakan secara tepat terbukti berhasil. Contoh pada Perang Yunani-Persia pertama (499-450 SM). Pada awalnya Yunani yg terlalu mengandalkan heavy infantry sering dijadikan bulan-bulanan pasukan Persia yg mayoritas infantry ringan dan kavaleri. Pasukan Persia kiriman raja Darius I bisa bergerak lebih bebas dan cepat. Hingga akhirnya terjadi titik balik pada pertempuran Marathon (490SM).

Pada pertempuran Marathon antara Athena (10.000 orang) dan Persia (100.000 orang). Athena membagi pasukan hoplite menjadi 3 bagian. Bagian tengah bertugas sebagai umpan dan bertahan, bagian kanan dan kiri bergerak mengapit Persia, sementara Persia membelakangi laut Dengan posisi terjepit ruang gerak Persia menjadi terbatas, sehingga kelincahan Persia pun menjadi sia-sia. Dalam posisi ini infantry ringan Persia bukan tandingan infantry berat Athena dan Persia pun langsung dilibas …

Faktor geografis sangat besar pengaruhnya dalam sistem hoplite. Contoh lainnya yaitu pada pertempuran Thermopylae yg terkenal, dimana 300 pasukan Sparta dipimpin raja Leonidas ditambah dengan pasukan kota lainnya sehingga berjumlah sekitar 1.500-3.000 orang (bukan cuma 300 seperti di film) melawan Persia dengan kekuatan 250.000 orang dipimpin langsung oleh Xerxes I pada Perang Yunani-Persia kedua (480SM).

Thermopylae adalah celah sempit jalan satu-satunya yg harus dilewati pasukan Persia. Dimana salah satu sisi dilindungi dengan tebing tinggi dan sisi lainnya adalah lautan. Leonidas memblokir jalan tersebut, sehingga memaksa Persia untuk menyerang hanya dari arah depan dan dalam jumlah kecil.

Pada 2 hari pertama pasukan Yunani unggul sampai kemudian ada penghianat yg memberi tahu jalan lain yg memutar dibelakang pasukan Yunani. Hari ke 3 Persia menyerang dari depan dan belakang, sebagian besar pasukan Yunani mundur hingga tersisa sekitar 1000 orang yg berjuang sampai titik darah penghabisan, termasuk 300 orang Sparta. Meskipun pada akhirnya kalah, dengan jumlah yg sedikit Yunani berhasil menewaskan 20.000 orang Persia.

Konsep hoplite sedikit demi sedikit mengalami perubahan. Perubahan yg cukup signifikan dilakukan oleh Philip II dari Macedonia (359-336 SM). Meskipun masih menggunakan formasi yg sama, Philip merubah fungsi hoplite.

Hoplite tidak lagi sebagai offensif tetapi sekedar untuk menahan pasukan musuh agar tetap pada posisinya (sebagai umpan dan defensif) sehingga tidak memerlukan banyak manuver. Tombak diperpanjang menjadi 6 m (disebut sarissa) dan harus dipegang oleh kedua tangan, untuk itu perisai dibuat lebih kecil. Pasukan ini sekarang disebut Phalanx.

Sebagai gantinya Philip mengembangkan kavaleri untuk fungsi offensif. Kavaleri bersenjatakan tombak 3 m, pedang, helm dan baju zirah tanpa perisai. Sementara pasukan lawan sibuk menghadapi phalanx, kavaleri yg lebih flesibel akan bergerak menyerang pertahanan lawan yg tidak terjaga dan memecah pasukan lawan.

Konsep ini terbukti menjadi mesin perang yang ampuh, Philip berhasil menyatukan Yunani dan kemudian taktik ini terus digunakan oleh anaknya Alexander dalam kampanye menaklukkan Persia hingga ke India. (Bisa dilihat dalam film The Great Alexander)

Kelemahan

Meskipun begitu phalanx masih menggunakan prinsip yg sama dengan hoplite dan memiliki kekurangan yg sama pula. Sistem ini membutuhkan kerapatan barisan dan hanya efektif di daerah terbuka yg lapang, phalanx menjadi tidak efektif dalam pertempuran di daerah pegunungan maupun hutan belantara. Inilah salah satu faktor yg menghambat laju ekspansi Alexander di India.

Kelemahan ini kemudian disempurnakan oleh legiun Romawi

Selain itu dari segi organisasi tentara Macedonia tidak lagi dari warga biasa melainkan tentara profesional, wajib militer (artinya digaji) dan tentara bayaran.

sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s