Menaksir Usia Lapisan Geologi Dataran Yogyakarta

Pengangkatan Pegunungan Selatan pada Kala Plistosen Awal, telah membentuk Cekungan Yogyakarta. Di dalam cekungan tersebut selanjutnya berkembang aktivitas gunung api (Gunung) Merapi. Didasarkan pada data umur penarikhan 14C pada endapan sinder yang tersingkap di Cepogo, aktivitas Gunung Merapi telah berlangsung sejak ±42.000 tahun yang lalu; sedangkan data penarikhan K/Ar pada lava di Gunung Bibi, aktivitas gunung api tersebut telah berlangsung sejak 0,67 jtl. Tinggian di sebelah selatan dan kemunculan kubah Gunung Merapi di sebelah utara, telah membentuk sebuah lembah datar. Bagian selatan lembah tersebut berbatasan dengan Pegunungan Selatan, dan bagian baratnya berbatasan dengan Pegunungan Kulon Progo. Kini, di lokasi-lokasi yang diduga pernah terbentuk lembah datar tersebut, tersingkap endapan lempung hitam. Lempung hitam tersebut adalah batas kontak antara batuan dasar dan endapan gunung api Gunung Merapi. Didasarkan atas data penarikhan 14C pada endapan lempung hitam di Sungai Progo (Kasihan), umur lembah adalah ±16.590 hingga 470 tahun, dan di Sungai Opak (Watuadeg) berumur 6.210 tahun. Endapan lempung hitam di Sungai Opak berselingan dengan endapan Gunung Merapi. Jadi data tersebut dapat juga diinterpretasikan sebagai awal pengaruh pengendapan material Gunung Merapi terhadap wilayah ini. Di Sungai Winongo (Kalibayem) tersingkap juga endapan lempung hitam yang berselingan dengan lahar berumur 310 tahun. Jadi, aktivitas Gunung Merapi telah mempengaruhi kondisi geologi daerah ini pada ±6210 hingga ±310 tl.

Latar belakang penelitian ini adalah atas dasar banyaknya argumentasi yang menyebutkan bahwa dataran Yogyakarta terbentuk akibat pengangkatan Pegunungan Selatan dan Pegunungan Kulon Progo pada Kala Pleistosen Awal. Argumentasi tersebut pertama kali dikemukakan oleh van Bemmelen (1949), dan dibenarkan oleh Hammilton (1979), Kadar (1987), Raharjo dkk. (1977), serta diacu oleh Andreastuti (2000), Mulyaningsih (1999), Ratdomo-purbo dan Andreastuti (2000), dan lain-lain. Proses tektonisme tersebut hingga kini diyakini sebagai

batas umur Kuarter di wilayah ini. Menurut Raharjo (2000), setelah pengangkatan Pegunungan Selatan, terjadi genangan air (danau) di sepanjang kaki pe-gunungan hingga Gantiwarno dan Baturetno. Hal itu berkaitan dengan tertutupnya aliran air permukaan di sepanjang kaki pegunungan sehingga terkumpul dalam cekungan yang lebih rendah. Sayangnya, data umur batuan Kuarter yang mendukung argumentasi tersebut sangat jarang, karena lebih banyak membahas batu-batuan Tersier dan endapan-endapan Merapi berumur ±10.000 tahun hingga sekarang.

Gunung Api Merapi muncul pada 42.000 tl, na-mun data umur K/Ar lava andesit di Gunung Bibi, Berthomier (1990) menentukan aktivitas Gunung Merapi telah berlangsung sejak 0,67 jtl. Hipotesis-nya adalah tinggian di sebelah selatan, barat daya, barat dan utara Yogyakarta, telah membentuk gena-ngan sepanjang kaki gunung api yang berbatasan dengan Pegunungan Selatan dan Kulon Progo. Un-tuk membuktikan hipotesis tersebut, telah dilakukan studi stratigrafi dan penarikhan umur dengan metode 14C. Data umur 14C juga didukung oleh data hasil penelitian Andreastuti (2000), Murwanto (1996), Mulyaningsih (2006), dan Newhall dkk. (2000).

Penelitian terdahulu berhasil diketahui umur tertua endapan lempung hitam di kaki Pegunungan Menoreh, yaitu 3140 tahun (Newhall dkk., 2000), sedangkan yang paling muda berumur 310 tahun (Mulyaningsih, 2006).

Pengukuran stratigrafi telah dilakukan di sepan-jang tebing sungai, galian tanah, galian untuk pon-dasi, dan tebing-tebing jalan. Hasil analisis stratigrafi berhasil mengidentifi kasi endapan lempung hitam sebagai sedimen genang air di daerah Borobudur, Godean, Kasihan (Wates), Kalibayem-Kasihan (Bantul), Watuadeg-Sumber, Potorono-Plered, dan Gantiwarno (Klaten). Tebal endapan tersebut bervariasi dan sebarannya sektoral, sehingga tidak dapat dikorelasikan. Hasil analisis umur dengan metode 14C berhasil mengetahui umur endapan genang air tersebut 16590 tahun di Kasihan (Wates), 6210 tahun di Watuadeg, 20.000 hingga 3430 di Borobudur. Endapan yang termuda berumur 860 tahun di Borobudur, 740 tahun di Godean, 470 di Kaliduren (Sileng), dan 310 tahun di Kalibayem-Kasihan (Bantul).

Setelah hasil pengukuran stratigrafi tersebut dikorelasikan, ternyata penampang dari masing-masing lokasi tidak saling berkaitan (Gambar 6). Kesemua singkapan menunjukkan cekungan yang ber-beda meskipun umurnya korelatif. Secara vertikal, bagian bawah masing-masing singkapan tersusun oleh perselingan lahar, abu gunung api, dan lempung hitam seperti yang tersingkap di Watuadeg (LP 69), Borobudur (LP 51 dan 53) dan Godean (LP 114). Makin ke atas perselingan tersebut makin didomi-nasi oleh lahar dan beberapa di antaranya fl uvium.

Komposisi stratigrafi endapan genang air di Kasihan (Wates) dan Borobudur hampir sama, yaitu perselingan antara lempung hitam dan pasir hitam lempungan kaya felspar. Di bagian bawah didominasi oleh lempung hitam berumur 1760 tahun dan ma-kin ke atas komposisi lempungnya makin berkurang digantikan oleh material fragmental (lahar?) yang mengandung tonggak kayu (tertanam) yang berumur 740 tahun. Di LP 92 dan 114 (Kalibayem, Bantul sampai Godean) pada bagian atas berupa lahar namun di salah satu sisi di Kalibayem berupa lem-pung-lanau keabu-abuan (endapan genang air: dam) berumur 310 tahun. Di Borobudur (LP 53) dan Kali-duren (Sungai Sileng: LP 54): bagian bawah tersusun oleh perlapisan lempung sangat tebal (lebih dari 6 m) yang bagian bawahnya berumur 3410 tahun (umur oleh Newhall et al., 2000) sedangkan di bagian atas berupa perselingan breksi (lahar) dengan lempung hitam. Tonggak kayu di atas lapisan lempung hitam-keabuan (dengan abu gunung api) diketahui berumur 860 tahun (umur oleh Murwanto, 1996). Tonggak kayu pada lapisan lempung-lanau di Mendut (Sungai Progo: LP 53) yang korelatif dengan lempung hitam tersebut diketahui berumur 710 tahun.

Korelasi stratigrafi pada wilayah pengendapan material gunung api yang lebih tinggi menjumpai setidaknya tiga sekuen endapan yang korelatif dengan endapan lempung hitam (Gambar 7). Ketiga sekuen tersebut masing-masing dipisahkan oleh lapisan paleosol, yang menandakan adanya selang waktu pengendapan (waktu istirahat aktivitas besar Merapi). Ketiga sekuen tersebut dari bawah ke atas berumur 1930-1760 tahun, 1430-1060 tahun, dan 740-640 tahun. Masing-masing sekuen tersusun oleh satu sampai tiga lapisan endapan gunung api yang terdiri atas abu awan panas, lahar, dan fl uvium. Sebaran dan umur masing-masing endapan berbeda, sehingga dikelompokkan dalam satu periode (sekuen pengendapan).

Periode (sekuen) paling bawah tersusun oleh tiga umur endapan awan panas (endapan seruakan pirok-lastika) yang telah lapuk dengan kandungan arang kayu berumur 1930 tahun (LP 19). Umur tersebut merupakan umur batuan yang menumpang di atas-nya, sehingga lapisan paleosol tersebut diinterpre-tasikan sebagai selang waktu pengendapan antara sekuen yang lebih tua (2340 tl) dan sekuen yang lebih muda (1930-1760 tl). Di lokasi yang lain (LP 18) justru dijumpai endapan abu gunung api berumur 1930 dan 1810 tahun secara berurutan (Gambar 7),

namun di tempat lain (LP 94) dijumpai endapan abu dan lahar yang umurnya 1760 tahun. Begitu pula dengan sekuen di atasnya. Material berumur 1410-1430 tahun hanya dijumpai di sepanjang seputar Sungai Kuning-Tempuran (LP 6-20) atau ke selatan saja, sedangkan material berumur 1060-1180 tahun dijumpai lebih luas di seputar Sungai Opak ke barat hingga Sungai Boyong. Penyebaran sekuen berumur 740-640 tahun sangat luas (di bagian selatan-barat), namun terdiri atas tiga umur, yaitu 740-710 tahun di bagian selatan, 640-710 tahun di bagian barat daya dan 490-740 tahun di bagian barat.

KESIMPULAN

Lingkungan geologi genang air dan dataran gunung api aktif telah berkembang di dataran Yogyakarta hingga kaki Pegunungan Kulon Progo dan Pegunungan Selatan. Perkembangan lingkungan geologi tersebut berhubungan dengan aktivitas gunung api Merapi sejak 20.000 tl hingga 310 tl.

Sejalan dengan aktivitasnya hingga saat ini, Merapi telah mengendapkan materialnya dalam volume yang besar, mendangkalkan lingkungan genang air hingga kering, sedangkan pada dataran kaki gunung api terjadi perkembangan paleogeomorfologi secara lokal yang secara lateral berkesinambungan. Penggenangan hingga pendangkalan berlangsung secara bertahap, dalam waktu yang lama. Se-lama 20.000 tahun tersebut, secara periodik terjadi penggenangan, kemudian secara tiba-tiba pendang-kalan pada tiap-tiap 50-150 tahun, namun secara umum dan perlahan genang air makin menyusut. Kondisi geologi di lingkungan dataran gunung api

dalam 50-150 tahun sekali terjadi pengendapan lahar dan abu gunung api, serta selama 50-150 tahun berikutnya terjadi pelapukan membentuk soil. Kondisi tersebut mendorong masyarakat pada masa sejarah untuk berbudi daya dan mendirikan bangunan seperti candi hingga periode bencana berikutnya.

sumber : Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 1 No. 2 Juni 2006: 103-113

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s