Saat Presiden Tegur Bocah SD

Seketika pandangan saya terhadap Presiden SBY berubah ketika menyaksikan orang nomor satu di tanah air ini, dengan muka serius memperingatkan untuk membangunakan anak – anak dalam penyelenggaraan peringatan Hari Anak Nasional di Jakarta, kemarin. Saya tak habis pikir dan sekaligus heran, kok bisa seperti itu? Terlebih, meski dengan bahasa yang agak lembut, namun jelas dari raut muka seriusnya. Satu kata, berlebihan!

Untuk lebih jelasnya, berikut beberapa berita yang melaporkan kejadian itu :

SBY Tegur Anak-Anak Di Puncak Hari Anak Nasional

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA— Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali menegur audiensi saat dirinya menyampaikan pidato. Kali ini SBY menegur anak-anak pada puncak Hari Anak Nasional 2012, di di Theater Imax Keong Emas, TMII – Jakarta Timur, Rabu (29/8/2012).
Teguran itu terujar saat SBY tengah menyampaikan sambutannya pada acara yang seharusnya digelar setiap tanggal 23 Juli.
Di tengah sambutannya, SBY melihat ada anak-anak yang tidak menyimak karena tertidur.
“Tolong dibangunkan yang tidur ya. Ada satu atau dua yang masih ngantuk mungkin,” ucapnya, sembari menghentikan sambutannya. Suasana pun saat itu sempat menghening beberapa waktu.
Usai kejadian itu, SBY pun kembali melanjutkan sambutannya di hadapan sekitar 700 anak dan tamu undangan.
“Ke depan kita ingin lebih banyak lagi anak-anak dan remaja Indonesia yang berprestasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, bidang olahraga, bidang seni, serta bidang-bidang lainnya, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ungkapnya.
“Saya berharap anak-anak kita dapat berperan dan menjadi pemimpin dari negara kita yang insya Allah akan makin maju, unggul, dan sejahtera, di masa depan,” ujarnya.
sumber

Tegur Anak-anak, SBY Dibela Wakil Ketua MPR

TEMPO.CO, Jakarta -Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, Melani Leimena, membela Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menegur anak-anak yang tertidur saat pidatonya di Hari Anak Nasional. Teguran itu dinilai bertujuan baik.

“Saya rasa bagus. Memang harus diperingati, orang lagi pidato nggak didengar rasanya nggak enak,” kata dia di gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Kamis, 30 Agustus 2012.

Menurut Melani, semua yang hadir dalam acara tersebut selayaknya memang harus mendengarkan pidato tersebut. Presiden SBY berhak menegur mereka yang tak menyimak pidatonya. “Kalau tidak diperingati selanjutnya dia akan berbuat seperti itu,” ujarnya.

Teguran ini, menurut dia, berlaku bagi siapa saja. Tak terkecuali jika pendengarnya adalah anak-anak. “Dari kecil kita diajar disiplin. Sekarang ini di era globalisasi kadang-kadang murid suka nggak menghargai guru dan ortunya,” kata anggota Dewan Pembina Partai Demokrat ini.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegur beberapa anak yang mengantuk bahkan tertidur ketika ia berpidato di acara peringatan Hari Anak Nasional di Teater IMAX Keong Mas Taman Mini Indonesia Indah, Rabu, 29 Agustus 2012 kemarin. Nada suaranya tak sekeras layaknya menegur menteri atau kepala daerah yang tidak menyimak kata-katanya dengan baik.

Namun, tindakan SBY ini menuai kritik. Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menilai tindakan itu sebagai bentuk kekerasan verbal kepada anak. “(Teguran) itu sudah termasuk kekerasan verbal karena mempermalukan anak di depan umum,” kata dia.

sumber

Tegur Anak Tidur, SBY Bakal Disurati Komnas Anak

TEMPO.CO, Jakarta – Komisi Nasional Perlindungan Anak akan mengirimkan surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mempertanyakan tindakan Yudhoyono yang menegur anak-anak yang tertidur saat mendengarkan pidatonya pada peringatan Hari Anak Nasional di Taman Mini Indonesia Indah, Rabu, 29 Agustus 2012.

“Teguran itu adalah tindakan yang sangat disayangkan dan menyakiti anak,” kata Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, saat dihubungi Tempo, 30 Agustus 2012.

Arist mengatakan tindakan Presiden itu bertentangan dengan tema Hari Anak Nasional yang berjudul Bersatu Mewujudkan Indonesia Ramah Anak. “Bagaimana Indonesia mau ramah kepada anak kalau pemimpinnya saja tidak ramah,” kata Arist.

Ia mengaku melihat langsung melalui televisi saat Yudhoyono menegur anak-anak yang tertidur. Ia mengatakan, dengan tindakan seperti itu, anak yang ditegur bisa merasa malu dan trauma. “Bayangkan, itu dilakukan di depan ratusan yang hadir, ribuan yang menunggu di luar, dan jutaan pemirsa televisi,” katanya.

Rabu lalu, Yudhoyono hadir dan berpidato di peringatan Hari Anak Nasional di Teater IMAX Keong Mas Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Sekitar 500 anak yang hadir dalam acara tersebut telah hadir sejak pukul 06.00 WIB, empat jam sebelum pidato dimulai.

sumber

Mungkin memang benar, secara etika, para orangtua sudah mengajarkan anak-anaknya untuk selalu memperhatikan lawan bicara atau seseorang yang tengah berbicara kepada mereka. Ya untuk menghormati orang yang sedang berbicara, apalagi ini yang berbicara seorang presiden lho. Sampai disini, ya memang tidak ada yang salah. Tapi kalau kita simak secara nurani, saya pikir itu terlalu berlebihan. Lain halnya jika disampaikan dengan nada atau pembawaan setengah bercanda sebagaimana yang sering dilakukan para guru saya ketika hendak menarik perhatian para muridnya. Masalahnya, mereka memang masih anak – anak. Itu dunia mereka yang riang gembira dan seolah “tak peduli” dengan siapa yang tengah berbicara. Apalagi, tema HAN saat ini yaitu mewujudkan Indonesia Ramah Anak. What? Pesan itu disampaikan dengan cara yang tidak ramah bagi anak – anak. Hufft…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s