Candi Barong, Harmonisasi Manusia dan Lingkungannya

Setelah selesai dengan kerjaan, saatnya untuk menyalurkan hobi mengunjungi situs – situs bersejarah di seantero bumi mataram. Sekarang giliran Candi Barong, yang terletak di Dusun Candisari, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Sleman. Sebelumnya, saya juga pernah menelisik mengenai Candi Ijo yang hanya terpaut jarak sekitar 2 kilometer dari candi yang menjadi simbol harmonisasi manusia, budaya dengan alam dimana mereka tinggali.

Menuju Teras Pertama

Penemuan
Keberadaan candi yang bercorak agama Hindu dan menjadi tempat pemujaan bagi Dewa Wisnu dan Dewi Sri ini pertama kali diketahui dari literatur Belanda dalam Rapporten van Den Oudheidkundigen Dienst (ROD) tahun 1915, yang disebut dengan nama Candi Sari Sorogedug. Namun penduduk sekitar lebih suka menyebutnya sebagai Candi Barong lantaran terdapat hiasan kala (barongan) pada salah satu reliefnya. Saat pertama kali ditemukan, Candi yang berasal dari abad IX – X masehi ini berada dalam kondisi memperihatinkan, formasi batuan runtuh dan ditutupi semak belukar. Bahkan beberapa batuan sudah ambruk hingga menyerupai bukit. Setelah dilakukan pembersihan terhadap semak belukar, diketahui bahwa reruntuhan candi masih ada yang dalam kondisi baik sehingga bisa dengan mudah direkonstruksi semisal di bagian batur, bagian kaki gapura dan kaki talud.

Hiasan Kala atau Barong yang menjadi awal penyebutan Candi Barong oleh penduduk sekitar

Hingga kini belum ada catatan otentik yang menjelaskan kapan candi ini dibangun, seperti misalnya disebut dalam sebuah prasasti. Namun para arkeolog sepakat bahwa candi ini dibangun antara abad IX – X masehi atau pada akhir masa klasik Jawa Tengah. Asumsi ini didasarkan pada penelusuran terhadap tata letak langgam dan ornamen bangunan utama. Tata letak candi barong sendiri berteras roboh ke belakang, membujur dari arah timur ke barat. Langgam atau profil bangunan demikian lebih sederhana sedangkan ornamen yang menghias bangunan tidak terlalu rumit.

Dilihat dari sebelah Barat
Dilihat dari sebelah Timur

Adapun ornamen yang paling menonjol yakni adanya hiasan kala yang berada di ambang atas relung banguanan. Model kala seperti ini menurut para arkeolog, dinyatakan lebih muda penanggalannya dibandingkan dengan masa klasik jawa tengah.

Bangunan Candi
Pada awal penemuannya, para ahli menduga candi barong terdiri atas tiga teras sebagaimana lazimnya tinggalan pada budaya masa klasik lainnya, dimana setiap teras dibatasi dengan pagar keliling. Teras paling atas terdapat dua buah candi dan sebuah pintu gerbang yang menghadap ke barat. Teras kedua merpakan area terbuka tanpa bangunan. Teras ketiga juga tidak ada bangunan. Sebagai batas masing – masing teras dilikupi dengan pagar, namun sayang pagar ini sekarang hanya tersisa bagian kakinya saja. Bagian tubuh dan puncak pagar telah hilang / rusak akibat termakan usia dan rapuhnya material penyusun.

Menuju Teras Ketiga
Teras ketiga dilihat dari teras pertama
Candi utama dilihat dari sebelah timur

Teras pertama merupakan bagian inti dan paling sakral dengan simbolnya berada pada lapisan paling tinggi. Disini terdapat dua buah candi yang berdisi diatas sebuah batur. Di keempat dinding kedua candi tersebut terdapat hiasan kala. Sedangkan pada bagian kedua merupakan simbol penghubung antara bagian inti dengan teras ketiga. Halaman ini bersifat semiprofan semisakral. Sedangkan teras ketiga dianggap sebagai bagian profan. Lokasi dimana tidak ada bangunan suci sehingga setiap orang bisa masuk ke dalam lokasi tersebut.

Latar Belakang Sejarah
Kawasan perbukitan yang terletak di sebelah selatan Candi Prambanan, oleh para arkeolog dikenal dengan sebutan Ciwa Plateu. Istilah ini pertama kali dilontarkan oleh seorang ahli purbakala asal Belanda bernama NJ Krom pada akhir abad XIX. Sebagai dasar pemikirannya, karena di kawasan ini banyak sekali ditemukan peninggalan arkeologis yang bersifat ciwaistis, semisal Candi Ijo, Candi Miri dan Arca Ganesha Sumberwatu. Penyebutan itulah yang kemudian dirujuk oleh para ahli arkelogi, meskipun di kawasan yang sama sebenarnya ditemukan peninggalan budaya material yang berlatar belakang agama Budha.

Salah satu tinggalan yang ada di perbukitan ini yaitu Candi Barong. Candi Barong berada di sebuah bukit kapur yang merupakan gugusan dari perbukitan seribu. Candi ini merupakan salah satu peninggalan masa klasik indonesia yang memiliki karakteristik tersendiri sekaligus menjadi keistimewaan candi tersebut. Karakteristik ini ditunjukan melalui temuan arkeologis yang ada, latar belakang keagamaan, tata letak bangunan dan konstruksi bangunan candi. Berbagai keunikan yang dimiliki Candi Barong menunjukan adanya kreasi dan inovasi manusia pendukungnya, sebagai penanda proses adaptasi dengan lingkungannya.

Keistimewaan Candi Barong
Candi Barong disebut – sebut memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bangunan lainnya. Beberapa diantaranya yakni dalam segi tata letak candi.

Tata letak candi menunjukan adanya kontinuitas dengan tradisi masa prasejarah khususnya pada masa megalitikum atau periode masa batu besar. Hal ini ditunjukan dengan adanya pola pembagian halaman dengan ketinggian yang berbeda pada masing – masing teras atau halaman.

Kedua, yakni istimewa dalam segi konstruksi bangunan. Candi ini berdiri diatas sebuah bed rock sebagai alasnya. Pemanfaatannya dilakukan dengan cara mengepras perbukitan padas dan mengurugnya di bagian yang rendah. Hampir sama dengan yang dilakukan di Candi Ijo sih. Nah pemanfaatan bed rock ini terlihat pada dudukan talud lorong peralihan dan pagar ketika di sisi timur. Tujuan pemangkasan ini dilakukan supaya batu dudukan talud terjepit padas sehingga secara konstruksi mampu menopang beban di atasnya tanpa adanya pergeseran.

Keistimewaan lainnya dapat dilihat dari penempatan titik pusat (brahmasthana). Brahmasthana di candi barong ditunjukan dari peletakan halaman inti yang sama dengan titik pusat candi I. Hal ini dinilai sangat langka terjadi mengingat brahmasthana merupakan suatu hal yang suci sehingga sebisa mungkin terbebas dari bangunan untuk memelihara kesuciannya. Sedangkan di candi barong ini, kedua titik pusat tersebut justru menjad satu.

Sedangkan dari segi latar belakang agamanya, candi barong merupakan candi bercorak agama Hindu. Berbeda dengan candi Hindu lainnya yang cenderung memuja Dewa Siwa, candi barong lebih fokus untuk memuja Dewa Wisnu. Beberapa temuan arca Dewa Wisnu dan Dewi Sri menunjukan pemujaan terhadap dewa dan dewi tersebut. Hal ini diyakini berkaitan erat dengan lingkungan dimana candi tersebut berada. Dewa Wisnu sebagai simbol dewa pemeliharaan alam, sedangkan Dewi Sri sebagai dewi kesuburan sangat cocok dengan kondisi alam sekitar yang berada di atas bukit padas dan cukup gersang bahkan sampai sekarang sulit memeroleh air. Sawah yang ada pun merupakan pesawahan tadah hujan. Dengan demikian, pemujaan terhadap Dewa Wisnu dan Dewi Sri mempunyai koherensi dengan kondisi alam dan tantangan lingkungan sekitarnya. Pemujaan terhadap dewa dan dewi ini diharapkan mampu meningkatkan kesuburan dan perbaikan kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya.

One thought on “Candi Barong, Harmonisasi Manusia dan Lingkungannya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s