Wine dari Salak? Kenapa Tidak

Wine Salak dan Nanas
Wine Salak dan Nanas

JIKA selama ini bir atau wine dikenal terbuat dari anggur ataupun gandum, maka lain halnya dengan yang dihasilkan oleh para mahasiswa jurusan bioteknologi, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta. Mereka membuat wine dari campuran ekstrak buah nanas dan salak. Hasilnya, cukup menggembirakan lantaran tak beda jauh dengan produk wine pada umumnya. “Kandungan alkoholnya sekitar 5 hingga 10%, aman dikonsumsi asal jangan berlebihan,” jelas Josephine Indra, mahasiswa bioteknologi angkatan 2010.

Ditemui pada hari Senin siang di UKDW, Josephine menjelaskan bahwa mereka yang tergabung dalam tim peneliti memang punya alasan tersendiri mengapa memilih nanas dan salak sebagai bahan dasar pembuatan wine. Selain memiliki kandungan alkohol yang cukup tinggi, bahan – bahan ini juga mudah diperoleh lantaran banyak tersedia di wilayah Yogyakarta. Selain itu, mereka berharap bisa ikut serta memanfaatkan komoditas lokal yang dikembangkan menjadi produk yang selama ini belum pernah dibuat sebelumnya.

Anggota tim peneliti lainnya, Martadiana Kuncoro menjelaskan, cara pembuatannya sama saja dengan pembuatan wine yang menggunakan bahan dasar anggur. Pertama – tama, nanas dan salak dikupas. Setelah itu dihaluskan menggunakan blender. Cara ini dilakukan untuk mengambil ekstrak atau sari buah murni. Lantas untuk membunuh bakteri berbahaya, ekstrak buah murni ini menjalani proses sterilisasi di dalam suhu 121 derajat celcius selama sekitar 15 menit. Kemudian, esktrak buah yang telah disterilisasi tersebut didinginkan sebagai tahapan akhir sterilisasi.

Terus masuk ke proses inkulum kemudian masuk tahapan fermentasi menggunakan mikroba Saccharomyces. Prosesnya sendiri berlangsung cepat, namun semakin lama disimpan, maka kandungan alkoholnya bisa semakin tinggi,” imbuhnya seraya menjelaskan bahwa produk ini baru dibuat sekitar tiga minggu lalu.

Mereka mengklaim bahwa produk tersebut belum ada di pasaran. Sehingga mereka pun cukup percaya diri untuk membuat riset hingga menjadi sebuah produk siap pakai. Meski begitu, mereka mengaku belum ada niat untuk mengembangkannya secara lebih serius. Alasannya, ide pembuatan wine ini pun ternyata berasal dari tuntutan bahan praktikum mereka. Padahal, jika dikembangkan bukan tidak mungkin produk ini bisa menjadi alternatif sejajar dengan produk sejenis yang sudah lebih dulu ada di pasaran.

Oleh karena itu, pengemasannya pun masih menggunakan wadah ala kadarnya dengan mengambil bekas botol minuman dari produk yang sudah ada di pasaran. Sedangkan untuk labelnya sudah mereka buat sendiri dengan mencantumkan bahan dasar pembuatan wine.

Sudah kami tes dan produk ini aman dikonsumsi,” imbuh Josephine.

Adapun produk ini, dipamerkan dalam acara pameran Bio Tech Expo 2012 yang bertajuk Biodiversity, Biotechnology dan Bioentrepeneur. Mereka cukup percaya diri untuk membawa produk yang merupakan hasil dari riset yang cukup panjang ini.

Nantinya, jika wine ini memang hendak dikembangkan, maka masih banyak hal yang harus mereka tuntaskan. Semisal uji laboratorium, ijin dari instansi yang berwenang terkait masalah produk makanan dan minuman, ijin dari departemen kesehatan serta ijin lainnya yang terkait dengan penerbitan produk.

Sejauh ini belum terpikirkan untuk mengembangkannya secara lebih serius lagi,” pungkasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s