Danau Vulkanik Terdalam di Pulau Flores

Image

Sano Nggoang dikepung kehijauan hutan Mbeliling. Dalam bahasa Manggarai, sano berarti danau. Sepanjang perjalanan menuju danau ini, kadang terlihat beberapa ekor burung Srigunting wallacea (Wallacean dronggo) bertengger pada dahan pohon. Siapa menyangka, danau vulkanik terbesar di Pulau Flores sekaligus yang terdalam di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, ini berada di Kabupaten Manggarai Barat.

Pada umumnya, tujuan wisatawan mancenegara yang berkunjung ke Pulau Flores kalau bukan Pulau Komodo, tentu mengunjungi Gunung Kalimutu. Kedatangan mereka ke kedua tempat itu karena keduanya dikenal sebagai World Heritage. Namun sebenarnya, Flores memiliki yang lainnya, salah satunya yakni Danau Vulkanik Sano Nggoang sebagai geological heritage. Danau ini  terletak di ketinggian 750 m dpl dengan kedalaman ± 600 m dan luas 513 hektare. Rentangan danau ini sekitar 2,5 – 3 km. Dalam bahasa setempat sano berarti danau, sedangkan menurut legenda, “Sano Nggoang terbentuk karena hukuman bagi si buta dan si lumpuh. Dulu, ada orang buta memerlukan api milik si lumpuh. Si buta mengutus anjingnya. Alih-alih dibawakan sebatang obor, ekornyalah yang dikorbankan membawa api. Si anjing panik. Si buta dan si lumpuh justru menganggapnya hiburan untuk tertawaan. Dewa marah atas kelakuan keduanya.

Mereka diberi pilihan: bubur atau nasi. Keduanya memilih bubur dan jadilah danau”. Sepertinya cerita di atas kurang pas secara logika, namun itulah legenda. Sebenarnya keberadaan danau vulkanik ini tidak terlepas dari proses geologi yang masih terus berlangsung di Pulau Flores. Menurut beberapa ahli geologi, wilayah Manggarai Barat tersusun atas Busur Vulkanik Dalam Kalk Alkalin yang berumur Kenozoikum, yang hingga kini masih aktif. Busur tersebut dibentuk oleh penunjaman kerak India-Australia ke arah utara. Bentuk busur kepulauan ini masih mengalami perubahan di bagian timur karena tumbukan dengan tepi benua Australia – New Guinea terus berlangsung.

Menurut Badrudin drr (1994), batuan tertua yang terdapat di sekitarnya terdiri atas batuan sedimen berumur Tersier, tersingkap di bagian utara daerah Werang. Batuan vulkanik Kuarter berasal dari produk erupsi Gunung Sanonggoang yang membentuk Kaldera Sanonggoang, dan batuan vulkanik tua praerupsi Gunung Sanonggoang, sebagian tersebar di sekitar Sano Nggoang. Ciri paling jelas di antaranya adalah selang-seling antara breksi tuf terubah, andesit, andesit basaltik, dan tuf terubah.

Batuan yang telah mengalami ubahan hidrotermal umumnya memiliki intensitas lemah hingga kuat, terbukti dengan munculnya mata air panas di sekitar Sano Nggoang yang memiliki temperatur 370C hingga 1000C dengan kadar belerang yang cukup tinggi.

Menurut penelitian Fredy Nanlohi, drr (2003), kondisi lingkungan fluida geotermal di sekitar danau bersifat netral hingga asam, dicirikan oleh sistem reservoar air panas dengan zone uap pada kedalaman yang relatif dangkal.Keberadaan mata air panas di Kawasan Sano Nggoang yang berada di Desa Wae Sano, Kecamatan Sanonggoang, Kabupaten Manggarai Barat, menjadi daya tarik wisatawan. Di sana wisatawan dapat melakukan natural spa di kolam kecil di pinggir danau untuk kesehatan kulit dan menyegarkan badan. Selain itu, wisatawan dapat merebus makanan seperti telur atau pisang yang langsung masak dalam waktu sekitar tiga menit. Kawasan ini pun memberikan fasilitas berkemah, dan bila sedang beruntung akan disambut serombongan itik gunung (Anas superciliosa) yang sedang berenang di pinggiran danau, atau burung tiong emas (Gracula religiosa) sedang mematuk-matuk buah murbai.

Untuk sampai ke Sano Nggoang, kita harus melakukan perjalanan sekitar 60 km dari Kota  Labuanbajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat, dengan waktu tempuh sekitar tiga jam  menggunakan kendaraan roda empat, dan sekitar dua jam menggunakan kendaraan roda dua. Kualitas jalan ke Sano Nggoang dari Kota Labuanbajo sampai ke Werang dalam kondisi beraspal, sedangkan dari Werang ke danau, jalannya sebagian masih berbatu. Boleh jadi, pada akhir 2012 jalan ke sana sudah beraspal, karena pada saat kunjungan sedang dilakukan pengaspalan. Semoga perkembangan ini memberikan kemudahan bagi wisatawan untuk berwisata ke Sano Nggoang dan berdampak peningkatan taraf ekonomi masyarakat.

Dengan nilai kealamian yang sangat bagus, danau ini menjadi sangat eksotis karena berada di sekitar kawasan Hutan Mbeliling dan blok hutan Sesok, kawasan lindung dan imbuhan airtanah yang memasok kebutuhan air bersih bagi masyarakat Labuanbajo. Di kawasan hutan ini, terutama di sekitar Sano Nggoang, kita bisa berkeliling dengan menunggang kuda yang banyak dimiliki masyarakat, dan disediakan untuk wisatawan agar bisa menikmati keindahan dan kenyamanan.

Kawasan Mbeliling mempunyai fungsi lain sebagai tempat perlindungan bagi tumbuh-tumbuhan endemik dan spesies-spesies burung yang khas. Memang, Mbeliling dan Sano Nggoang memiliki sejarah penelitian yang penting. Sudah banyak informasi dasar mengenai tumbuh-tumbuhan, status, dan kelimpahan relatif burung, penelitian malaria, dan pemanfaatan tradisional terhadap tumbuh-tumbuhan. Beberapa spesies diketahui memiliki hubungan dengan spesies di Kalimantan, Filipina, dan Papua di masa lalu. Lebih dari 20 spesies tumbuhan baru telah dideskripsikan berdasarkan koleksi dari Mbeliling. Hingga saat ini spesies-spesies tumbuhan tersebut hanya dijumpai di kawasan ini, termasuk perwakilan dari marga-marga baru untuk Nusa Tenggara (Urobotrya florensis dan Sympetalandra schmutzii) dan beberapa spesies pohon (Helicia sp. dan Ternstroemia sp.) serta beberapa spesies anggrek (Corybas sp. dan Coelogyme sp.) yang belum dapat dideskripsikan.

Beragam spesies tumbuhan ini menggambarkan beberapa pengetahuan yang unik mengenai proses evolusi dan biogeografi di Asia Tenggara, di antaranya merupakan bukti adanya hubungan dengan Kalimantan, Filipina, dan Papua masa lalu. Selain itu keragaman tumbuhan endemik di sini menjadi apotek alami yang sering digunakan oleh masyarakat sekitar sebagai kawasan hutan sesok untuk obat-obatan, seperti demam, flu, malaria, untuk ibu hamil, melahirkan, sampai dengan penyakit kanker.

Di Flores memang terdapat hubungan antara pola endemisitas tumbuhan dan kekhasan burung, seperti dapat dijumpai di hutan Mbeliling. Dibandingkan kawasan konservasi lainnya di Flores, hutan Mbeliling memiliki jumlah tertinggi untuk spesies burung yang memiliki arti penting bagi konservasi. Jumlah ini mencakup tiga dari empat spesies endemik dan 17 dari 20 spesies burung penting lainnya, seperti burung air (Itik gunung/Anas superciliosa, Itik benjut/Anas gibberifrons); jenis endemik Flores (Gagak  flores/Corvus florensis); jenis sebaran terbatas (Tesia timor/Tesia everetti, Kipasan flores/Rhipidura diluta, Cekakak tunggir-putih/Caridonax fulgidus). Dengan jumlah populasi burung di sekitar danau masih relatif banyak, Kawasan Sano Nggoang menjadi daya tarik untuk pengamatan burung.

Keragaman biologi lainnya yang unik diantaranya adalah ular buta (Typhlops schmutzii), yang diketahui hanya terdapat di Pulau Komodo, Flores Barat, termasuk di hutan Mbeliling. Selain itu, Kawasan sungai Wai Tiunga yang hulunya berada di Pegunungan Mbeliling mendukung beberapa populasi buaya muara yang secara global terancam punah. Di tempat lain lagi, gua-gua di sekitar Dhalong mendukung beberapa populasi besar kelelawar pemakan serangga. Satu dari tikus endemik Flores, yaitu tikus raksasa Flores hidup di kawasan Mbeliling.

Pentingnya Kawasan Mbeliling dan Sano Nggoang tak bisa tidak adalah karena kawasan ini menjadi rumah yang nyaman untuk berlindung bagi tumbuh-tumbuhan endemik dan fauna yang khas Flores. Salah satu bukti kedahsyatan Mbeliling adalah ditemukannya spesies dari marga purba Saurauia, Diospyros, Mucuna, dan Elaeocarpus, hanya di Mbeliling. Sejumlah flora-fauna diketahui masih menunjukkan kekerabatan yang erat dengan flora-fauna dari Kalimantan, Filipina, dan Papua. Ditambah dengan fakta bahwa benih flora itu sebenarnya tidak bisa terbang melewati lautan, ini menunjukkan bahwa dulu daratan Flores menyatu dengan daratan Indo-Malaya (Sundaland). Fakta ini sekaligus menunjukkan adanya proses evolusi dan biogeografi di Asia Tenggara.

Saat ini status hutan dataran rendah Mbeliling yang berada di ketinggian 600 hingga 1.000 m dpl. meliputi hutan lindung seluas 72,4 km², hutan konversi seluas 41,8 km², dan hutan produksi terbatas seluas 120 km². Sayangnya, beberapa ancaman terhadap hutan terus berlangsung, seperti rencana konversi dari habitat hutan bertajuk rapat beralih fungsi menjadi hutan tanaman industri, menjadi perkebunan, pembangunan jalan, penebangan kayu liar serta perambahan hutan. Walaupun saat ini tidak ada izin pengambilan kayu di kawasan Hutan Mbeliling, namun illegal logging terus menghantui keberlanjutan hutan lindung di kawasan tersebut.

Hutan tersebut luasnya semakin berkurang dan mengancam sebagian besar jenis burung sebaran terbatas, padahal Mbeliling merupakan ‘rumah’ terpenting bagi burung-burung yang menjadi perhatian konservasi di Flores.

Hutan Mbeliling sebagai kawasan lindung bagi tumbuhan endemis dan kekhasan burung, juga memiliki fungsi resapan air bagi daerah di bawahannya. Labuanbajo sebagai ibukota Kabupaten Manggarai Barat yang berada di bagian bawah dari Hutan Mbeliling, tentu sangat berkepentingan agar kebutuhan air bagi kehidupan masyarakat sekitar dapat terjaga kelangsungannya. Kota Labuanbajo sendiri memiliki peran penting bagi kegiatan pariwisata.

Mayoritas wisatawan, baik dari dalam maupun manca negara yang ingin melihat secara langsung habitat hewan purba Komodo, biasanya transit di Bandara Komodo, dan bermalam di seputar Labuanbajo. Selain berkunjung ke Pulau Komodo atau ke Pulau Rinca, para wisatawan acapkali juga menikmati keindahan bawah laut Flores melalui aktivitas olahraga air seperti diving dan snorkling. Sementara biodiversity dan geodiversity yang begitu menawan di Hutan Mbeliling belum dikenal luas oleh para wisatawan. Karena itu, pengembangan wisata di Kawasan Hutan Mbeliling ini perlu dilakukan terutama di sekitar Sano Nggoang.

Dalam kondisi sarana dan prasarana yang masih terbatas, kegiatan wisata alam seperti trekking patut dikembangkan karena tidak sedikit wisatawan yang menyukainya. Selain itu, keterlibatan masyarakat lokal dapat langsung dirasakan. Salah satu kegiatan trekking yang sudah dirintis saat ini adalah trekking ke puncak sabanna.

Trekking ini cukup mudah untuk dilakukan dengan waktu tempuh empat jam pulang pergi dari Desa Werang. Lokasi apotek alami di hutan Sesok menjadi daya tarik bagi wisatawan karena masuk dalam jalur trekking. Dari puncak sabana, wisatawan dapat melihat pemandangan Sano Nggoang dan Hutan Mbeliling, serta sebaran pulau-pulau kecil yang terlihat begitu eksotis. Bagi para wisatawan, suguhan makanan lokal dan kopi tradisional Flores yang sangat enak akan memberi kesan yang mendalam, yang akan memberikan kerinduan untuk berkunjung kembali.

Jalur trekking lainnya yang patut dikembangkan adalah menuju air terjun Cuncarami,  air terjun hutan tropis yang memiliki ketinggian sekitar 30m, terlihat indah dari jalan utama menunju Desa Werang, Kecamatan Sanonggoang. Untuk mencapainya dibutuhkan waktu lebih-kurang satu jam. Di perjalanan kita akan menemukan beberapa sungai yang harus diseberangi, salah satunya cukup lebar dengan volume air yang memadai untuk anak-anak setempat berenang.

Semakin mendekati air terjun, sebaran penduduk semakin berkurang dan berubah memasuki lingkungan pesawahan yang memperlihatkan budidaya padi pada berbagai tahap siklus tumbuh. Perkebunan kakao, vanili, alpukat, dan pisang, terlihat silih berganti. Demikian pula hewan seperti kerbau, babi, dan kambing akan sering terlihat di sepanjang jalan. Dibutuhkan panduan untuk membantu mengidentifikasi tanaman dan buah-buahan, agar bagi wisatawan selama perjalanan, pengetahuannya tentang alam setempat terus bertambah. Para pemandu pun dapat membantu wisatawan berinteraksi dengan masyarakat untuk mendapatkan wawasan tentang kehidupan sehari-hari di daerah pedalaman Manggarai Barat.

Di kawasan sekitar Sano Nggoang terdapat gereja tua dan rumah paroki. Gereja ini belum pernah direnovasi, sehingga nilai keasliannya masih terjaga. Tempat ini sangat cocok dijadikan sebagai tempat wisatawan religi, khususnya bagi umat Katolik. Pendirinya seorang rohaniawan Katholik berkebangsaan Jerman, Erwin Schmutz, yang melayani dari tahun 1963 hingga 1985. Warga Manggarai Barat, juga mengenal sosok Pater Erwin, pemuka agama yang mendedikasikan hidupnya bagi konservasi lingkungan hidup Mbeliling. Kenangan yang begitu membekas darinya adalah nasehat agar selalu menghargai alam. Itu diakui oleh warga yang tinggal di Dusun Nunang, Desa Waesano, Kecamatan Sanonggoang. Di sana wisatawan akan mendapatkan pengetahuan tentang pengelolaan hutan yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Nunang.

Kenangan yang baik tersebut akan tetap terjaga dengan cara mengoptimalkan potensi kawasan sekitar Sano Nggoang misalnya sebagai kawasan geowisata dengan melibatkan masyarakat. Pola pendampingan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya masyarakat mempunyai manfaat besar agar masyarakat dapat berpartisipasi secara langsung dalam pengembangan kawasan wisata. Dari sana, masyarakat akan mendapatkan nilai ekonomi yang memadai, konservasi lingkungan dapat berjalan optimal, dan memberikan nilai pendidikan bagi masyarakat dan wisatawan.

Penulis : Oki Oktariadi, Penyelidik Bumi Madya, Ketua Dewan Redaksi Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, dan Ketua Dewan Redaksi Buletin Geologi Tata Lingkungan, Badan Geologi, KESDM, dalam GeoMagz Edisi Juni 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s