Menguak Potensi Gempa Besar di Sesar Lembang

Dengan terbentangnya robekan kerak bumi yang memanjang sedikitnya 22 kilometer dari Cisarua di Barat melewati kota Lembang, hingga lereng Gunung Palasari di Timur, para ahli geologi mengkhawatirkan gempa bumi berkekuatan besar dapat mengguncang Bandung, dipicu aktivitas tektonik dan robekan itu. Gempa bumi besar itu, dapat mengguncang hati para penghuni jantungnya cekungan Bandung.

Bandung Terancam

Dalam suatu ceramah umum untuk masyarakat  tentang Sesar Lembang yang diselenggarakan Program S2 Gempa Bumi dan Tektonik Aktif (GREAT: Graduate Research on Earthquake and Active Tectonik), Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, ITB, tanggal 25 Maret 2011, peserta tidak disangka-sangka berdesakan memenuhi ruangan. Ada dugaan hal tersebut dipicu oleh gempa besar yang dua minggu sebelumnya melanda bagian timur Jepang yang diikuti terjangan tsunami dahsyat yang memorak-porandakan pantai-pantai di Perfektorat Miyagi.

Setelah gempa bumi Yogyakarta 2006, muncul kekhawatiran tentang aktifnya kembali Sesar Lembang dalam diskusi para ahli yang diselenggarakan oleh Harian Umum Pikiran Rakyat. Kini semakin banyak warga Kota Bandung dan sekitarnya yang ingin mengetahui lebih jauh tentang kemungkinan SesarLembang aktif kembali dan menimbulkan gempa bumi besar.

Antusiasme masyarakat untuk mengetahui Sesar Lembang sangat wajar karena selama ini informasi tentang Sesar Lembang hanya diketahui oleh mereka yang terlibat dalam bidang Ilmu Kebumian saja, yaitu Geologi, Geodesi, Geofisika, atau Geografi. Bahkan di samping itu, ada juga para ahli Geologi yang masih meragukan keaktifan Sesar Lembang.

Apakah Sesar Lembang Aktif?

Mungkin istilah “sesar” terasa asing di telinga. Apakah sesar itu? Sesar, yang dalam bahasa Inggris disebut  fault merupakan retakan di kerak Bumi yang mengalami pergeseran atau pergerakan.

Secara umum dikenal tiga jenis sesar, yaitu sesar normal  (normal fault), sesar naik (reverse fault), dan sesar geser mendatar (strike-slip fault). Dalam bahasa sehari-hari, sesar sering disebut juga sebagai “patahan”. Di Lembang, sesar itu membentuk retakan tektonik memanjang lebih dari 22 km. Dengan melihat aspek bentang alam, sesar tersebut termasuk sesar normal. Bagian utara bergerak relatif turun, sementara bagian selatan terangkat. Kota Lembang hingga Cisarua di barat dan Maribaya hingga Cibodas/Batuloceng di timur merupakan bagian yang mengalami penurunan. Akibat dari proses tektonik ini, terbentang suatu gawir (lereng lurus) yang merupakan bidang gelincir Sesar Lembang yang dapat jelas terlihat dari Lembang ke arah timur.

Jika kita berdiri di daerah Cikole, kira-kira 3 km sebelah utara Lembang, kemudian memandang ke arah selatan, akan tampaklah fenomena geologis Sesar Lembang yang sangat jelas. Dari sini kita bisa menyaksikan segmen timur Sesar Lembang yang dimulai dari kira-kira jalan Bandung – Lembang sebagai pembagi utama dengan segmen barat. Pada segmen timur, tinggi gawir yang terbentuk dan mengangkat perbukitan dapat mencapai 450 m, terlihat jelas di lereng utara Gunung Palasari (+1859 m). Jajaran bukit-bukit memanjang itu dimulai dari Gunung Lembang tempat berdirinya Observatorium Bosscha pada tahun 1920. Kemudian tampak pula Gunung Batu, suatu bukit kecil dengan lereng berbatu. Ke arah timur tampak sebuah celah di antara lereng-lereng terjal. Di sanalah Ci Gulung, sebuah sungai yang berhulu dari lereng timur Gunung Tangkubanparahu bergabung dengan Ci Kapundung yang bersama-sama menerobos batuan keras di gawir sesar. Di ujung timur, gawir menoreh dalam di sisi utara Gunung Palasari. Tingginya gawir berubah ke arah barat, yaitu hanya mencapai 40 m di sekitar Cihideung. Semakin ke arah barat, gawir menjadi tidak terlihat terkubur endapan gunung api muda produk letusan Gunung Tangkubanparahu (+2084 m).

Pertanyaan para ahli Geologi dan diikuti masyarakat yang peduli bencana adalah, “Apakah Sesar Lembang aktif?” Sejak jaman sejarah hingga sekarang memang belum ada catatan gempa bumi besar yang berpusat di sepanjang Sesar Lembang. Namun demikian dengan menggunakan data empiris, suatu retakan yang telah terbentuk dengan panjang lebih dari 20 km dapat memicu gempa dengan magnitude 6,5 – 7,0 yang merusak. Satu catatan yang mungkin cukup mengkhawatirkan, adanya gempa bumi merusak pada tahun 1910 di Padalarang, yang boleh dikatakan berada pada zona ujung barat Sesar Lembang yang bertemu dengan sesar aktif Cimandiri yang berawal dari Palabuhanratu, Sukabumi.

Di dalam Geologi, kategori sesar aktif mula-mula merujuk kepada sesar yang terbentuk pada Zaman Kuarter, yaitu rentang waktu dari sekarang hingga 2 juta tahun yang lalu. Namun akhir-akhir ini kategori keaktifan sesar dipersempit hingga Kala Holosen hingga 10.000 tahun yang lalu. Hasil penelitian yang pernah dilakukan para peneliti Belanda Nossin, dan kawan-kawan pada 1996 menduga kemungkinan pergeseran Sesar Lembang, khususnya segmen timur, bertepatan dengan pembentukan kaldera Sunda 100.000 tahun yang lalu.

Pendapat ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan penelitian sangat awal yang dilakukan R.W. van Bemmelen yang kemudian dibukukan dalam “The Geology of Indonesia” yang diterbitkan tahun 1949. Namun untuk segmen barat, penelitian Nossin dan kawan-kawannya di daerah Panyairan, Cihideung, terhadap endapan gambut, menunjukkan bahwa segmen barat diperkirakan terakhir aktif sekitar 27.000 tahun yang lalu. Jika kategorinya 10.000 tahun sebagai batasan sesar aktif, informasi ini akan membuat Sesar Lembang berkategori “tidak aktif.” Sampai kemudian muncullah hasil-hasil temuan dari penelitian yang dilaksanakan Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI yang dimotori Eko Yulianto selama 2007 – 2010.

Ancaman Gempa Bandung Sesar Lembang Dipantau

VIVAnews – Untuk mengantisipasi potensi gempa besar yang mengancam Kota Bandung, pihak ITB bertekad terus memantau pergerakan Sesar Lembang.

Pada acara Kuliah Umum Sesar Lembang dan Hubungannya Dengan Masyarakat Bandung, di Institut Teknologi Bandung, kemarin, pakar Geodesi ITB, Irwan Meilano menegaskan bahwa ITB bakal terus memantau pergerakan sesar Lembang menggunakan Global Positioning System (GPS), bekerjasama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA).

Sebenarnya, menurut Irwan, ITB memang telah melakukan pengamatan Global Positioning System (GPS) di sekitar sesar Lembang, sejak 2006 lalu. Dari pengamatan itu, kecepatan laju geser dari sesar Lembang diketahui sekitar 2 milimeter per tahun.

Selain itu ITB juga akan membuat pendetailan pergerakan sesar Lembang agar dapat membuat skenario darurat jika terjadi bencana alam. Pendetailan tersebut, kata Iwan, harus didukung oleh para pemangku kepentingan (stakeholder) terkait, seperti pemerintah daerah, LSM dan organisasi lainnya.

Pakar gempa senior dari LIPI, Danny Hilman, setuju atas rencana pemetaan patahan secara detail. Menurut Danny ada dua skenario bencana, terkait patahan Lembang. Pertama, getaran akibat pergerakan berada di bawah tanah. Ini memberikan pengaruh luas, namun tidak terlalu berbahaya. Namun, ini sangat bergantung pada tingkat kedalaman getaran.
Kedua, patahan menyebabkan gempa di permukaan, yang dalam hal ini bisa merusak rumah. Karena gerakan patahan ini sukar diantisipasi, maka Danny mengusulkan agar sepanjang jalur patahan dihindari untuk didirikan rumah hunian, dan tanah di jalur patahan itu dibebaskan oleh negara.

Beberapa bangunan yang tepat berada di atas sesar Lembang antara lain adalah Observatorium Bosscha, Sesko AU, Sespim Polri, Detasemen Kavaleri TNI-AD, dan Restoran The Peak.

Daerah lain yang juga dilintasi Sesar Lembang adalah Gunung Palasari, Batunyusun, Gunung Batu & Gunung Lembang, Cihideung, dan Jambudipa bagian barat. Wilayah-wilayah tersebut merupakan wilayah pemukiman yang padat dan dapat berpotensi membahayakan.

“Tapi tanah di sekitarnya bisa dijadikan taman yang tidak berbahaya seperti kasus patahan San Andreas di California, AS,” Danny menjelaskan. Selanjutnya, kata Danny, gempa bumi memang sulit diprediksi.

Namun demikian, kawasan-kawasan rawan bencana gempa bumi telah diketahui dengan baik. Upaya selanjutnya, adalah bagaimana mempersiapkan diri jika gempa tersebut benar-benar datang.

Pakar Geologi ITB Budi Brahmantyo menambahkan, pemerintah harus melakukan sosialisasi dan melakukan berbagai simulasi untuk mengantisipasi besarnya korban yang jatuh. Karena biasanya, kata Budi, masyarakat Indonesia mudah lupa terhadap suatu peristiwa. (umi)

Tentang Dampak Aktifnya Sesar Lembang

Eko Yulianto meneliti keaktifan sesar melalui apa yang disebut sebagai endapan sag-pond. Sag pond adalah genangan yang terbentuk akibat terhambatnya drainase sungai yang terjadi akibat pembentukan dinding penghalang karena pergerakan sesar. Air sungai akan tergenang dan pembentukan lumpur serta endapan gambut akan terjadi di dalamnya. Jika endapan-endapan ini terjadi berlapis-lapis di bawah tanah, dapat diperkirakan bahwa pembentukan genangan terjadi berkali-kali melalui mekanisme pergerakan sesar. Begitulah apa yang ditemukan Eko Yulianto dari hasil pengeboran endapan di sekitar Pasir Sereh, Cihideung.

Dari temuannya itu, sekalipun dalam data yang masih terbatas, Eko Yulianto memperkirakan bahwa sedikitnya 1000 tahun yang lalu, Sesar Lembang pernah aktif. Ketika keaktifannya membentuk genangan luas, diperkirakan hal tersebut terbentuk oleh mekanisme pergerakan sesar yang menimbulkan gempa bumi berkekuatan tinggi. Informasi ini dengan pasti menunjukkan bahwa Sesar Lembang tergolong sesar aktif sekalipun belum ada gempa besar selama masa manusia modern yang melanda kawasan ini.

Tetapi lebih jauh lagi, hasil penelitian Geodesi ITB melalui pengamatan titik-titik yang diukur melalui GPS, memang telah dan sedang terjadi pergeseran di sekitar Sesar Lembang.

Sebuah cetakan citra SPOT pengambilan Juli 2006 sangat jelas menggambarkan citra udara wilayah sekitar Gunung Tangkubanparahu, Sesar Lembang, dan dataran Cekungan Bandung. Dari citra itu, interpretasi kelurusan-kelurusan menunjukkan kemungkinan adanya retakan-retakan yang terbentuk di permukaan bumi wilayah itu. Kelurusan paling mencolok tentu saja garis hampir berarah timur-barat, yaitu jalur struktural Sesar Lembang. Namun selain itu, banyak kelurusan dapat diinterpretasi yang umumnya juga berarah barat-timur sejajar Sesar Lembang di sekitar Perbukitan Dago (Bandung Utara), sekitar kota Lembang hingga lereng selatan jajaran Gunung Burangrang – Gunung Tangkubanparahu – Gunung Bukittunggul. Hasil interpretasi juga menunjukkan adanya kemenerusan Sesar Lembang ke arah Ci Meta di barat laut Padalarang. Perkiraan lain, pertemuan Sesar Lembang dengan Sesar Cimandiri di sekitar Padalarang berupa perpotongan antara retakan-retakan itu. Apapun kaitan antara fenomena-fenomena geologis itu, kedua sesar itu mempunyai hubungan yang oleh satu dan sebab lain akan menjadikan keduanya menjadi media rambat gelombang gempa bumi.

Pergeseran Sesar Lembang Terungkap

KOMPAS.com – Pergeseran Sesar Lembang yang terdapat di Jawa Barat berhasil diungkap lewat penelitian kerja sama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Japan International Cooperation Agency (JICA). Hasil penelitian dipaparkan, Jumat (28/10/2011), di Jakarta dalam acara konferensi dan workshop LIPI-JICA yang membicarakan tentang bencana kegempaan dan gunung api serta upaya untuk mengurangi resikonya.

Penelitian tersebut berhasil memantau aktivitas Sesar Lembang yang selama ini diketahui sebagai salah satu sesar yang aktif. “Sesar ini bergerak dengan kecepatan 2-4 mm per tahun,” kata Irwan Meilano, peneliti gempa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang terlibat dalam penelitian.

Irwan mengungkapkan bahwa sesar adalah kenampakan morfologis yang khas akibat proses tektonik. Suatu sesar dikatakan aktif bila mengalami deformasi dalam 10.000 tahun terakhir. Berdasarkan penelitian, pada 2.000 tahun yang lalu pernah terjadi gempa di sekitar sesar Lembang dengan magnitud 6,8. Pada 500 tahun yang lalu, juga pernah terjadi gempa bermagnitud 6,6. Hasil penelitian ini mengkonfirmasi hasil penelitian sebelumnya dan perkiraan-perkiraan sebelumnya.

Sementara itu, Eko Yulianto, pakar geoteknologi dari LIPI, mengatakan bahwa meski Sesar Lembang aktif, banyak masyarakat di sekitar Sesar Lembang yang belum mengetahui bahwa mereka hidup di wilayah rawan. Eko juga mengungkapkan bahwa selain banyak pemukiman, banyak juga sekolah yang berada di lokasi sesar Lembang. Pihak sekolah juga belum mengetahui bahwa sekolah terletak di lokasi sesar. Untuk upaya sosialisasi pada masyarakat, tim peneliti berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah sehingga bisa memberikan penyadaran secara berkelanjutan.

Belajar dari Jepang

Gempa yang menghantam perkotaan terbukti sangat parah dan berresiko tinggi. Tokyo 1923, Kobe 1995, Yogyakarta 2006, Padang 2009, atau Haiti dan Christchurch 2010 adalah beberapa contoh kehancuran perkotaan akibat gempa bumi. Lalu Jumat 11 Maret 2011, sebuah hentakan tektonik kuat pada Lempeng Pasifik yang berinteraksi dengan Lempeng Amerika Utara di timur laut Jepang menimbulkan gempa bumi berkekuatan 9,0 Mw.

Tetapi dari tayangan-tayangan di televisi beberapa jam kemudian kita melihat bagaimana masyarakat Jepang begitu tenang menghadapi gempa bumi merusak ini. Para kru televisi NHK memang sedikit khawatir ketika kantor mereka berguncang hebat menggetarkan komputer dan peralatan yang ada di atas meja dan lemari. Tetapi para anggota kabinet Jepang yang sedang rapat dengan tenang meninggalkan ruangan rapat satu per satu. Tidak terlihat kepanikan. Beberapa menit kemudian, gempa bumi itu memicu tsunami dahsyat yang meluluhlantakkan pantai-pantai di timur Jepang yang menghadap Samudera Pasifik. Kembali pemirsa televisi di seluruh dunia disuguhi tayangan fenomena alam yang mengerikan. Gelombang laut dahsyat menghantam permukiman, merubuhkan bangunan, dan menghanyutkan apa saja yang berada di pantai.

Ada yang perlu dicontoh dari siaran televisi Jepang. Sekalipun korban hingga dua minggu setelah kejadian dilaporkan menewaskan 12.000 jiwa, tetapi tidak ada satu tayangan pun di layar televisi (juga pada foto-foto di media cetak) yang memperlihatkan mayat-mayat yang bergelimpangan. Tayangan yang ada, bagaimana rakyat Jepang begitu tabah dan kuat menghadapi musibah itu, dan semangat bergotong-royong serta tolong-menolong di antara mereka yang hidup justru menjadi suguhan utama di layar televisi. Kita pun menyaksikan bahwa dengan gempa bumi dan tsunami yang begitu dahsyat dan melanda perkotaan yang padat penduduk, namun korban jiwa dapat dikatakan “lebih sedikit.” Tidak dapat dibayangkan apabila kejadian gempa bumi dan tsunami itu melanda perkotaan di sebuah negeri yang masyarakatnya kurang memiliki budaya dan perilaku siap menghadapi gempa.

Status Sesar Lembang Perlu Diwaspadai

Sindonews.com – Pulau Jawa termasuk pulau yang memiliki sesar yang berpotensi menimbulkan gempa bumi. Di Jawa Barat sendiri, tepatnya di daerah Bandung, ada dua sesar gempa, yakni sesar Lembang dan sesar Cimandiri.

Saat ini Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membahas khusus aktivitas sesar Lembang lewat diskusi “Status Sesar Lembang dan Tektonik Indonesia Kini.”

“Sesar Lembang sangat berpengaruh terhadap tektonik di Indonesia,” kata Munasri, saat membuka diskusi, Rabu (7/11/2012).

Menurutnya, jika Indonesia siap menghadapi dampak dari pergeseran sesar Lembang maka Indonesia dapat siap menghadapi gempa-gempa lainnya.

Dalam diskusi itu juga diungkapkan, sesar Lembang 30 kilometer ke arah utara Cekungan Bandung (pusat Kota Bandung). Bentuknya perbukitan memanjang berarah barat-timur jika dilihat dari latar depan selatan Gunung Tangkubanparahu.

Sesar Lembang memiliki panjang 22 km, yang pertama diperkenalkan Van Bemmelen pada 1934. Hingga kini, satus sesar Lembang masih menjadi perbincangan. Misalnya pada 1968 sesar Lembang disebut sesar geser manganan (right lateral).

Namun Natawidjaja dan Setyowidarto (2002) belum dapat menyebutkan pergerakan sesar ini. Maka disebutkan, diskusi ini juga terkait dengan mitigasi dan resiko pengurangan bencana.

Diskusi yang dimulai pukul 10.00 WIB ini digelar Ruang Pange, lantai 2, Gedung 70, LIPI, Jalan Sangkuriang, Bandung. Para apakar yang hadir di antaranya Dr Ir Munasri M.Sc (moderator), ahli dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Dr Danny Hilman Natawijaya, dan Dr Ir Adang Bachtiar (Exploration Think Tank Indonesia) PT Geologist Delta Andalan.

Hadir juga Dr Awang Harun Satyana (Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi/BP Migas), Dr Eko Yulianto (Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI), Dr Irwan Meilano (Teknik Geodesi Fakultas Ilmu Teknologi Kebumian ITB), dan lain-lain.

Perlu Mitigasi

Kekhawatiran terpicunya gempa bumi besar karena keberadaan Sesar Lembang sudah mulai diperhitungkan. Selain sebagai media rambat gelombang gempa bumi dari sesar-sesar aktif lainnya di Jawa Barat, Sesar Lembang dapat juga menjadi sumber gempa bumi itu sendiri. Untuk itulah peta-peta kerawanan bencana gempa bumi ke arah Kota Bandung yang berpenduduk padat mulai dibuat. Diantaranya peta percepatan gelombang gempa bumi yang menunjukkan daerah rawan bencana selain di sepanjang jalur sesar, juga merambat ke arah selatan Bandung, pada daerah-daerah bekas endapan danau yang bertanah fondasi kurang mantap. Peta-peta ini sudah cukup berharga untuk membuat kita waspada, karena gempa bumi sulit diprediksi! Ketika kita sulit menentukan kapan datangnya gempa bumi, maka usaha terbaik adalah bagaimana kita mempersiapkan diri jika gempa itu benar-benar datang. Itulah usaha mitigasi bencana, yaitu usaha untuk meminimalkan risiko atau akibat dari bencana.

Mitigasi terbagi ke dalam dua jenis, yaitu secara struktural berupa penataan ruang atau kode bangunan, dan secara non-struktural berupa pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat bagaimana selamat dari bencana. Saran-saran arsitek perlu diperhatikan dalam membangun bangunan di kawasan rawan bencana akibat gempa bumi. Di antaranya adalah tiang yang kuat, struktur yang sederhana, bahan yang ringan, dan lokasi yang aman (misalnya tidak di tebing atau pada jalur sesar aktif). Begitulah mitigasi struktural yang mencakup syarat bangunan dan tata perwilayahan  ruangnya.

Mitigasi non-struktural adalah kiat-kiat bagaimana selamat dari bencana gempa. Kiat-kiat Jepang atau Chile perlu dipertimbangkan. Setelah bangunan kuat, belum tentu selamat dari musibah. Di dalam rumah yang digoncang-goncang, isinya akan seperti dikocok-kocok. Berlindung melindungi kepala adalah tanggap darurat yang pertama-tama perlu dilakukan.

Mengikuti cara Jepang, beginilah selamat dari gempa bumi, dengan asumsi kode bangunan telah sesuai teraplikasikan di daerah rawan gempa bumi:

1. Segera matikan sumber api.

2. Segera berlindung di bawah bentukan/furnitur yang kuat, misalnya di bawah meja yang kokoh. Jika tidak ada, segera berbaring dengan melindungi kepala sejajar bentukan kokoh, misalnya tempat tidur atau rak pendek.  Ketika atap atau lemari rubuh, diharapkan terbentuk ruang segitiga tempat kita berbaring.

3. Tidak terburu-buru keluar rumah karena di luar rumah ancaman dijatuhi berbagai benda akan lebih dahsyat. Lift atau tangga adalah bagian bangunan yang rawan runtuh.

4. Siapkan tas berisi peralatan P3K, air dalam botol, makanan ringan tahan lama, peluit, radio kecil, dll. dan segera sambar begitu gempa semakin kuat dan bersembunyi di kolong meja kokoh. Dalam gempa yang dahsyat, kemanapun bahaya akan mengancam jiwa. Pengalaman Jerpang, berlindung di kolong meja banyak menyelamatkan nyawa. Ketika kemudian bangunan ambruk, jiwa yang selamat di kolong meja tinggal menunggu pertolongan. Itulah gunanya tas yang perlu disambar ikut berlindung.

5. Jika berada di luar rumah, merapatlah pada struktur bangunan yang dinilai kokoh (bukan pagar tembok), keluar dari kendaraan dan berbaring sejajar kendaraan, dan hindari tebing (baik di bawah atau di atas kita).

6. Harus ditentukan tempat berkumpul yang pasti (assembly point) supaya koordinasi dan pencarian warga lebih terkontrol.

Namun apakah cara-cara itu sesuai untuk Indonesia? Apakah berlari keluar rumah begitu guncangan awal terjadi lebih cocok untuk budaya Indonesia? Itulah yang harus diuji berkali-kali melalui latihan dan simulasi. Jangan sampai kita terlena karena lama sekali tidak diuji oleh alam. Kita harus selalu siap siaga!

Alam telah begitu ramah kepada kita, namun sekali-kali datang memberi peringatan. Itu bagian dari sistem alam sendiri agar kita selalu cermat membaca alam, memahami, dan menghormatinya. Gempa bumi  (earthquake) akan selalu menjadi heartquake yang mengguncang hati. Karena tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan persisnya waktu terjadinya gempa bumi, cara terbaik untuk meredam guncangan hati tiada lain kecuali dengan membangun kesiapan dan perilaku yang waspada terhadap “serangan” gempa bumi.

Budi Brahmantyo, dosen matakuliah Geologi Lingkungan dan Geologi Cekungan Bandung di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), ITB; koordinator KRCB (Kelompok Riset Cekungan Bandung). Dimuat dalam GeoMagz Edisi Maret 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s