Cerita Dibalik Gerakan NII

NII Mungkin Ada di Sekitar Kita

Dalam rentang waktu tahun 2000 hingga 2002, nama Ken Setiawan merupakan salah satu anggota gerakan Negara Islam Indonesia (NII) yang “berprestasi”. Bagaimana tidak, berdasarkan penuturannya, kala itu ia berhasil merekrut ratusan anggota baru, mulai dari kalangan pelajar, mahasiswa, buruh, baik itu dari kalangan terpelajar maupun dari kalangan masyarakat bawah. Ia juga tercatat mampu mendatangkan “setoran” yang banyak bagi keberlangsungan gerakan NII. Maklum saja, hanya ada dua doktrin yang wajib dilakukan para anggota NII ini, yakni merekrut sebanyak-banyaknya anggota baru dan kewajiban menyetorkan uang. Entah bagaimana caranya, para anggota ini seperti terhipnotis mencari uang meskipun dengan jalan kejahatan.
“Bagi kami, jihadnya hanya ada dua, yakni mencari orang dan uang, karena sudah sejak awal juga ada perjanjiannya, ada target yang harus dicapai, kalau tidak tercapai kita bisa habis dipukulin,” terang pria yang kini menjabat sebagai Sekjen NII Crisis Center, sebuah pusat rehabilitasi bagi korban NII.

Ditemui disela-sela acara diskusi dan pemutaran film berjudul Mata Tertutup di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga pada Selasa (05/02) pagi, pria kelahiran Kebumen 10 September 1979 ini mengisahkan awal mula dirinya masuk ke dalam jaringan NII.

Perkenalan pertama ia bersentuhan dengan jaringan ini, yakni ketika dirinya pergi ke Ibu Kota Jakarta pada 20 Maret 2000 silam. Saat itu, Ken hendak mengikuti kejuaraan beladiri. Setibanya di Jakarta, ia bertemu dengan rekan-rekannya dari pesantren. Ia pun memeroleh sambutan hangat dari rekan-rekannya itu. Mulai dari menyediakannya makanan, tempat tinggal, dan perlakukan yang membuatnya bahagia lantaran merasakan senasib sepenanggungan sebagai perantauan. Akibat pertemuan itu, Ken pun memutuskan untuk mengurungkan niatnya mengikuti kejuaran beladiri. Ia justru semakin nyaman tinggal bersama rekan-rekannya itu.

“Mereka membuat saya kagum, di jaman yang serba modern dan ditengah kehidupan ibu kota, ternyata masih ada yang memelajari ilmu agama sedemikian mendalamnya,” ujarnya mengungkapkan saat ia mulai terpedaya.

Dari situlah, perlahan-lahan ia mulai diperkenalkan dengan ajaran jaringan NII. Dikotomi mengenai kafir dan non kafir, definisi mengenai negara islam, syariat islam, serta berbagai macam perjuangan yang hendak dicapai seolah-olah secara sengaja dibenturkan dengan pemahamannya selama ini. Ken gamang, bingung, namun perlahan ia mulai menerima ajaran tersebut. Hingga akhirnya, ia pun memutuskan untuk menandatangani dokumen keanggotaannya, terhitung dalam rentang waktu dua minggu sejak pertemuannya pertama kali.

Sejak itulah, Ken mulai mengimani ajaran dan doktrin yang diyakini NII. Ia mulai mencari uang dengan berbagai cara. Termasuk diantaranya dengan cara merampok. Ia sempat mendapatkan pengalaman memilukan saat kelompoknya bersekongkol dengan seorang pembantu rumah tangga (PRT) yang berpura-pura dirampok. Tanpa diduga, pemilik rumah ternyata pulang lebih awal. Sementara si PRT sudah akting dalam posisi diikat tangannya, mulut dan hidungnya menggunakan kain. Lantaran berjalan diluar rencana, akhirnya si PRT ini tewas dalam posisi seperti itu di kamar mandi. “Saya hanya bisa membayangkan, bagaimana dia meninggal perlahan-lahan, saya sedih kalau ingat itu,” ungkap Ken, tanpa menceritakannya lebih jauh lagi.

Berselang dua tahun ia bergelut dengan organisasi itu, Ken mulai sadar banyak hal yang sudah menyimpang dari ajaran agama yang ia yakini. Hingga akhirnya ia memutuskan diri untuk keluar dari NII. Tak mudah untuk lepas dari cengkramannya. Ancaman pembunuhan, teror, intimidasi sudah menjadi santapan sehari-hari, bahkan masih terus terjadi hingga sekarang. Lantas bagaimana ia bisa selamat hingga sekarang?

“Semakin kita frontal dengan mereka, mereka tidak akan berani nyenggol kita, terlalu beresiko bagi organisasi mereka, tapi saya yakin setiap gerak-gerik saya masih terus diawasi,” ucapnya.

Sementara itu, dalam hal penggalangan dana, Ken menjelaskan bahwa para anggota NII sekarang lebih banyak yang menggalang dana melalui jalur aman. Berbeda dengan dulu yang lebih memilih lewat jalur kriminal semisal perampokan. Kini, mereka menempuh cara dengan mengirimkan orang-orang untuk menggalang sumbangan-sumbangan dari rumah ke rumah. “Saya berani jamin, mereka biasanya meminta sumbangan dengan pakaian yang perlente dipastikan anggota NII, beda dengan penggalangan sumbangan lainnya,” ungkapnya.

Ken memberikan Warning, bahwa kini jaringan itu kian menggurita. Namun karena perjuangannya yang tersamar, banyak orang yang terpedaya dan tidak menyadari keberadaannya. Paling banyak mereka menyasar para buruh, pelajar dan mahasiswa. Bahkan mereka juga sudah masuk ke dalam Partai Politik untuk menanamkan ideologinya secara perlahan-lahan. Dalam bahasa Ken, para recruiter ini tak ubahnya seperti bunglon. Mereka bisa menyesuaikan diri dan menyamarkan diri dengan sangat sempurna.

Bermodalkan kamuflase tersebut, para anggota NII terus bergerilya mencari merekrut anggota baru. Mereka memiliki kriteria sasaran tertentu yang nantinya akan diajak sebagai anggotanya. Antara lain, calon anggota tidak berasal dari keluarga anggota TNI maupun Polri, ia termasuk orang yang cerdas, mereka juga menyasar orang yang berasal dari keluarga kaya dan terakhir para anggota NII menyasar mereka yang terhitung pendiam.

Kriteria-kriteria itu tentu saja bukan tanpa alasan. Ken merinci, bahwa terlalu berisiko jika mengajak mereka yang berasal dari keluarga TNI atau Polri. Sedangkan calon anggota yang berasal dari keluarga kaya tentu saja diharapkan bisa memberikan kontribusi berupa dukungan pendanaan yang besar. Sementara untuk sasaran terhadap orang yang cerdas, menurut Ken, nantinya mereka akan dipersiapkan sebagai perekrut yang bekerja secara terselubung di lingkungan kelas atas dan akademisi. Terakhir, bagi orang pendiam, diharapkan ia menjadi rantai yang terputus, jika suatu saat gerakannya terbongkar.

“Nah gerakan yang ada sekarang memang gerakan pragmatis, yang bergerak sangat halus. Mereka seperti bunglon, bisa menjadi mahasiswa, dosen, guru, ataupun profesi lainnya tanpa disadari keberadaannya. Misalnya untuk mahasiswa cerdas, bisa dibayangkan betapa berbahayanya jika sampai ia berperan di sebuah lembaga pendidikan tinggi dan memberikan pengaruh kepada mahasiswa berpotensi lainnya,” paparnya.

Berdasarkan pengalamannya tersebut, Ken kini memilih untuk “menembus dosa” dengan mendirikan pusat rehabilitasi bagi para korban NII. Ia berharap, banyak orang yang bisa kembali ke kehidupan normalnya.

“Saya membayangkan berapa banyak anak yang membangkang terhadap orangtuanya, berapa banyak orang yang merampok, berapa banyak anak yang tega menjual tanah orangtuanya, dan lain sebagainya,” pungkasnya.

Kisah-kisah inilah yang juga menginspirasi Maarif Institute for Culture and Humanity untuk membuat sebuah film berjudul “Mata Tertutup”. Film yang mengusung semangat toleransi dan anti kekerasan ini, berkisah tentang para korban NII. “Kami menjangkau penonton kalangan pelajar dan mahasiswa, karena mereka lah yang paling rentan menjadi sasaran kelompok-kelompok radikal,” jelas Direktur Eksekutif Maarif Institute, Fajar Riza Ul Haq.

Posted from WordPress for Android

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s