Benarkah Kekalahan Napoleon Bonaparte Akibat Letusan Dahsyat Gunung Tambora?

Apakah letusan dahsyat Tambora menjadi penyebab kekalahan Napoleon Bonaparte di Waterloo?

Ilustrasi peperangan Napoleon Bonaparte
Ilustrasi peperangan Napoleon Bonaparte

Memang terlalu gegabah menyimpulkan hal itu. Namun marilah kita ikuti peristiwa peristiwa bersejarah di sekitar 1815, tahun berakhirnya Perang Napoleon dan meletusnya Gunung Tambora di Pulau Sumbawa.

Napoleon Bonaparte, Kaisar Prancis yang baru saja kabur dari pengasingannya di Pulau Elba dan merebut kembali tampuk kekuasaannya dari Louis XVIII, harus menghadapi kondisi cuaca yang tidak mendukung dalam medan pertempuran Waterloo di Belgia. Saat itu tanggal 18 Juni 1815. Sial baginya, hujan deras yang mengguyur Belgia semalaman penuh menimbulkan banjir dan tanah menjadi becek sehingga tidak layak untuk dilalui meriammeriam berat. Padahal untuk merebut kemenangan dalam perang seratus hari setelah kebebasannya, pasukan Napoleon harus segera menggempur pasukan koalisi Inggris dikomandani Laksamana Wellington yang bertahan di Waterloo.

Sang Kaisar akhirnya mengundurkan waktu penyerbuan, menunggu tanah mengering. Seiring dengan itu, konsolidasi pasukan musuh akhirnya menjadi kuat ditambah datangnya pasukan Prusia. Lalu sejarah mencatat bahwa kegemilangan strategi perang Napoleon kandas di Waterloo dan Napoleon pulang ke Paris hanya untuk menandatangi pakta kekalahan dan pengasingan dirinya kembali. Ia dibuang ke pulau terpencil di Samudera Atlantik, St. Helena, hingga meninggalnya pada 5 Mei 1821. Berakhirlah perang panjang 1799 –1815 yang melanda seluruh Eropa yang dimulai ketika Napoleon Bonaparte merebut kekuasaan di Prancis.

Lalu bagaimana hubungan kekalahan Napoleon di Waterloo dengan letusan Tambora? Letusan bertipe Plinian dari Gunung Tambora yang membentuk cerobong abu ke angkasa dan membentuk payung cendawan di atasnya, diperkirakan mencapai ketinggian lebih dari 25 km. Abunya di angkasa beredar terbawa angin stratosfer ke seluruh dunia, dan iklim dunia pun terpengaruh.

Memang sulit untuk mengaitkan apakah abu Tambora yang beberapa minggu kemudian diperkirakan menyumblim di atas Eropa, menghasilkan hujan deras di atas Waterloo. Namun demikian, walaupun pada bulan Juni biasa terjadi hujan mengawali musim panas di Eropa, intensitas curah hujan tinggi yang tidak biasa, luput dari perkiraan Napoleon, dan hal itu mungkin saja disebabkan pengaruh abu dari letusan Tambora.

Satu hal yang tidak terbantahkan di kalangan ilmuwan yang pada saatnya menjadi kebingungan masyarakat belahan Bumi utara, adalah perubahan iklim yang terjadi setahun kemudian pada 1816. Setelah Eropa reda dari kekacauan akibat Perang Napoleon, pemulihan kondisi ekonomi semakin terancam akibat perubahan cuaca. Gagal panen terjadi di mana-mana. Kelaparan dan wabah penyakit tak terhindarkan. Bahkan  pada waktu yang seharusnya tengah-tengah musim panas pada Juli – Agustus 1816, diberitakan salju turun di beberapa tempat di belahan Bumi utara. Tahun 1816 kemudian tercatat dalam sejarah sebagai “the year without summer.”

Di literatur Barat sekarang mulai disadari bagaimana novel kelam tentang monster seperti Frankenstein karya Mary Shelley atau Vampyre karya John William Polidori rupanya tercipta pada masa kegelapan di tahun 1816.

Mary Shelley misalnya, seorang perempuan Inggris terpaksa mendekam di kamar hotelnya saat liburan ke pegunungan Swiss pada musim panas 1816 yang ternyata justru dingin dan gelap mencekam. Saat itulah bersama teman-temannya ia hanya bisa bercerita hal-hal seram sehingga menginspirasi membuat novel yang terkenal itu.

Begitulah bagaimana abu letusan Tambora mungkin menjadi salah satu faktor penyebab kekalahan pasukan Napoleon di Waterloo, dan justru memberi inspirasi para pengarang untuk menciptakan monster Frankenstein atau Vampyre yang dikenal luas hingga sekarang.

Letusan Tambora benar-benar mempengaruhi iklim dunia. Suhu Bumi tercatat turun sebesar 0,5 derajat C. Tidak hanya itu, letusan dahsyat itu juga mempengaruhi pola hidup dan menjadi inspirasi karya-karya sastra.

Catatan: artikel ini ditulis ulang untuk Geomagz bersumber dari artikel penulis sendiri yang berjudul “Dari Tambora ke Waterloo, 195 tahun yang lalu” dimuat di Majalah Ekspedisi Geografi Indonesia, BAKOSURTANAL, 2010.

Penulis: Budi Brahmantyo di GeoMagz Volume 3 No 1 Maret 2013

One thought on “Benarkah Kekalahan Napoleon Bonaparte Akibat Letusan Dahsyat Gunung Tambora?”

  1. “Sial baginya, hujan deras yang mengguyur Belgia semalaman penuh menimbulkan banjir dan tanah menjadi becek sehingga tidak layak untuk dilalui meriammeriam berat.”

    Intinamah… UJYAN, BECYEK, GAK DA OJYEK…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s