Jembatan Cirahong dan Letusan Dahsyat Gunung Galunggung

Cirahong_3

Cirahong, begitu jembatan itu disebut. Letaknya di Desa Manonjaya, Tasikmalaya. Di perbatasan Kabupaten Tasikmalaya dengan Ciamis, Jawa Barat. Jembatan ini dibangun pada zaman penjajahan Belanda, atau tepatnya pada 1893. Panjangnya mencapai 200 meter. Lebarnya tak lebih dari 2 meter. Dua penyanga beton setinggi 46 meter terlihat kokoh menopangnya. Di bagian atas, besi-besi terlihat saling bersilang, menjaga bentang Cirahong, dari ujung ke ujung. Sepintas, tampak kokoh, perkasa.

Berdasarkan hasil liputan dari liputan6, Di atas jembatan, terdapat rel kereta api jurusan Bandung-Surabaya. Hingga kini, jalur tersebut masih aktif. Namun, jika ditilik lebih dekat, sungguh miris. Di sejumlah titik tampak kerusakan, terutama di bagian landasan yang terbuat dari bilah-bilah kayu setebal 20 sentimeter.

Lembaran-lembaran kayu yang ditata itu terlihat banyak yang bolong, tidak terpaku ke tulang landasan jembatan. Jika kayu itu patah sedikit saja saat dilintasi, tak urung nyawa orang yang melintas jadi taruhannya. Sebab, jembatan itu dibangun di atas derasnya arus kali Citanduy yang bermuara ke Laut Kidul.

Karena jembatan ini tak cukup lebar, terpaksa kendaraan roda dua ataupun roda empat yang akan melintas harus bergantian. Maka, warga sekitar bergotong-royong untuk mengatur lalu lintas dari kedua arahnya.

Meski penuh rasa was-was, masyarakat sekitar lebih memilih menggunakan Jembatan Cirahong ini. Khususnya mereka yang beraktivitas dari Ciamis ke Tasikmalaya ataupun sebaliknya. Tidak ada pilihan lain bagi warga untuk mempercepat mobilitas mereka.

Adapun kala malam, jembatan tersebut tetap dibuka. Sejumlah petugas berjaga selama 24 jam, mengatur arus kendaraan yang akan melintas di atas Jembatan Cirahong. Di bulan Ramadan ini, intensitas kendaraan yang melintas bisa 10 kali lipat dari biasanya.

Cirahong_4

Sementara itu menurut artikel Wikipedia, jembatan ini mempunyai nomor BH 1290 dan berada di timur Stasiun Manonjaya Daerah Operasi 2 Bandung. Jembatan ini menggunakan konstruksi baja yang banyak dan cukup rapat. Jembatan yang memiliki panjang 202 meter ini merupakan jembatan yang unik, karena memiliki 2 fungsi. Bagian atas jembatan berfungsi untuk lalu lintas kereta api, sedangkan bagian bawah jembatan berfungsi untuk lalu lintas kendaraan. Namun kendaraan yang melintas harus bergantian masuk, karena ukuran jembatan yang sempit. Jembatan ini merupakan jalur alternatif dari Tasikmalaya menuju Ciamis lewat Manonjaya dan sebaliknya. Jembatan Cirahong merupakan satu-satunya jembatan peninggalan belanda di Kabupaten Ciamis.

Tapi itu hanya sekadar deskripsi saja, ada yang lebih menarik tentang Jembatan Cirahong dan fenomena geologis meletusnya Gunung Galunggung. GeoMagz edisi No 1, Maret 2013, merangkumnya dalam sebuah liputan geotravel bersama narasumber sekaligus pemandu perjalanan, seorang geologiwan senior yang mumpuni dan dikenal pula sebagai ahli bahasa, yaitu M.M. Purbo-Hadiwidjoyo atau Pak Purbo.

Cirahong_1

Menurut Pak Purbo, pada suatu ketika Galunggung meletus dahsyat, melontarkan dinding timur tenggaranya menjadi berkeping-keping batu dalam berbagai ukuran hingga jarak ribuan meter dari titik letusnya. Bahan ledakan itu membendung Citanduy di Kota Tasikmalaya sekarang sehingga terbentuk danau. Peristiwa itu juga mungkin menyebabkan banyak korban karena pada zaman itu daerah tersebut sudah dihuni orang, dan banyak mayat terapung di atas danau. Menurutnya, tidak mustahil asal-usul nama Kota Tasikmalaya itu dari kata tasik (danau) tempat banyak orang malaya (dari kata laya yang mendapat awalan “ma” atau “me” yang berarti “mati”).

Danau itu akhirnya mengering karena aliran ke arah selatan lewat Ci Wulan. Sebagian air danau mengalir lewat Ci Tanduy. Lembah yang lama dan baru alur Ci Tanduy ini dapat diamati di sekitar Cirahong.

Tentang asal-usul nama ini, terdapat perbedaan pendapat yang dirangkum dalam tulisan berjudul “Toponimi Tasik dalam Perbincangan”. Pak Purbo mempersoalkan lagi cara terjadinya letusan hebat Galunggung yang menghasilkan ribuan bukit yang terkenal dengan nama “bukit sepuluh ribu”. Nama itu berasal dari bahasa Prancis, dix milles monticule; dan dalam bahasa daerah setempat: bukit saréwu atau bukit sapuluh rébu. Dinamakan demikian karena memang hasil letusan itu berupa bukit kecilkecil yang terserak tak beraturan di area seluas 170 km2 dari kaki Galunggung.

Menurut B.G. Escher, sekitar tahun 1925, jumlah bukit itu lebih dari 3.600. Namun, saat ini jumlahnya sudah jauh berkurang, mungkin yang tersisa tinggal sekitar puluhan saja. Menurut hasil sebuah penelitian, jarak antara bukit itu dengan kawah Galunggung terdekat kira-kira 6,5 km dan terjauh 23 km dengan ukuran bukit yang terbesar bergaristengah hingga 500 m dan tingginya mencapai 5 m. Beberapa ahli meneliti peristiwa letusan Galunggung dan “bukit sepuluh ribu”.

A.D. Wirakusumah (2012) adalah salah seorang di antara nya. Ia menulis, “Selanjutnya, magma menyeleweng sekali lagi ke lereng tenggara dan menyebabkan batuan di lereng tenggara terdorong ke luar dan akhirnya longsor. Akibatnya, magma muncul di tempat lemah tersebut dan terjadilah letusan besar yang menghasilkan piroklastika. Aliran tersebut sekaligus menyertai dan mendorong longsoran tadi hingga terbentuk bukit sapuluh rébu yang lokasinya sampai sekitar 27 km ke arah timur-tenggara dari kawah Galunggung”.

Cara kejadian letusan seperti ini terkenal dengan istilah volcanic debris avalanches atau sering disingkat debris avalanches yang berarti longsoran besar bahan rombakan gunung api atau, singkatnya, guguran puing.

Pendapat lain memperkuat penjelasan bahwa letusan Galunggung itu melongsor puing secara besar-besaran, misalnya seperti yang termuat dalam situs Survei Geologi Amerika Serikat USGS. Pendapat ini menyebutkan pula perkiraan umur kejadiannya, yaitu kurang dari 23.000 tahun. Peneliti lainnya, Sutikno Bronto dari Badan Geologi, juga menyimpulkan bahwa volcanic debris avalanches merupakan cara terjadinya “bukit sepuluh ribu”. Berdasarkan penelitian disertasinya tentang geologi gunung api Galunggung, umur kejadian itu adalah 4.200 tahun yang lalu.

Sejarah alam itulah yang kami perbincangkan ketika singgah di dekat Jembatan Cirahong. Belanda membangun jembatan itu agar jalur rel kereta api lintas selatan Pulau Jawa dapat melewati Kota Ciamis. Pada waktu itu, sekitar 1880-an, Belanda membangun jalur kereta api di seluruh Pulau Jawa untuk memperlancar pengangkutan hasil perkebunan yang akan diekspor. Konon, ketika pembangunan rel kereta api itu sudah sampai di Tasikmalaya, R. A. A. Kusumadiningrat yang waktu itu baru pensiun dari jabatannya sebagai Bupati Ciamis, melihat kesempatan untuk mempercepat kemajuan
Kota Ciamis. Usul pun disampaikan kepada pihak Belanda agar jalur kereta api itu dapat melewati Kota Ciamis. Belanda memenuhi permintaan itu. Namun, diperlukan jembatan untuk menyeberangi Ci Tanduy di tempat terdekat dari Kota Ciamis agar biayanya lebih hemat.

Dengan bermodalkan peta dasar dan data dasar lainnya, pada tahun 1893 Belanda memanfaatkan celah sempit Ci Tanduy di daerah Cirahong sebagai tempat untuk membentangkan jembatan kereta api menuju Kota Ciamis. Di tempat itu terdapat bentangan untuk jembatan yang terpendek. Selain itu, batuannya juga merupakan batuan keras yang cocok untuk fondasi jembatan. Akhirnya, jembatan Cirahong dapat diselesaikan dan masih berdiri dengan megahnya hingga hari ini.

Jembatan Cirahong memiliki keamungan atau sesuatu yang khas. Itulah jembatan dua geladak: yang atas untuk kereta api, dan yang bawah untuk kendaraan umum. Betapa Belanda sangat diuntungkan oleh sistem perangkutan kereta api ini. Selain mengangkut hasil perkebunan, dengan jalur kereta api ini Belanda juga sangat efektif mengontrol kawasan jajahannya, terutama wilayah yang berada di pedalaman dan di bagian selatan Pulau Jawa.

Dari kisah Cirahong kita mendapatkan cara Belanda menghadapi tantangan alam yang dihadapi dengan sangat efisien dan efektif. Semuanya bertumpu pada data dasar seperti topografi dan geologi yang dipadukan dengan perencanaan yang matang. Kini, separuh abad lebih setelah kemerdekaan, sudah semestinya kita lebih meningkatkan peran data dan informasi dasar dalam pembangunan. Kita pun ditantang untuk meningkatkan pemanfaatan jembatan itu, misalnya dengan pariwisata sejarah dan geowisata. Hal ini sangat memungkinkan karena jembatan Cirahong itu khas, megah, dan bernilai
sejarah, dengan alam di sekitarnya yang memiliki fenomena geologi yang menarik.

Sumber :

Wikipedia

Liputan6

Jurnal Geologi GeoMagz Nomor 1, Maret 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s